Nasib Alun-Alun Mal Tunggu Appraisal

MALANG KOTA –   Kontrak kerja sama PT Sadean Intramitra Corporation (SIC) dan Pemkot Malang dalam pengelolaan Alun-Alun Mal resmi berakhir kemarin (15/11).

Pemkot Malang memastikan tenant tetap bisa melanjutkan usahanya. Hanya, sistem kontraknya diperpendek menjadi per enam bulan.

Sekkota Malang Wasto mengatakan, pihaknya sudah intens menjalin komunikasi dengan manajemen Ramayana yang menjadi tenant utama Alun-Alun Mal menjelang masa kontrak PT SIC habis.

Termasuk opsi kontrak per enam bulan yang ditawarkan Pemkot Malang. ”Kami masih menunggu tim appraisal (penilai) untuk melihat dan menghitung nilai sewa sesuai aturan yang ada. Saya belum menerima laporan hasilnya karena tim masih bekerja,” paparnya.

Dia membenarkan sistem sewa Ramayana dan tenant lainnya tetap bersifat pendek. Jika sistem sewa aset pada Ramayana berakhir di bulan keenam, maka pada bulan ketujuhnya akan ditentukan lagi dari segi kelayakan ekonomi, besaran sewa per tenant.

Wasto mengakui, pasca kerja sama Alun-Alun Mal tuntas dengan SIC, Pemkot Malang mewacanakan akan menyulapnya menjadi mal pelayanan publik hingga jadi pusat dari Perumda Tunas.

Namun, karena belum adanya kepastian berakhirnya kerja sama karena pemilik PT SIC tak bisa dihubungi beberapa waktu lalu, Pemkot Malang memutuskan masih akan menyewakan pada tenant. Sehingga  Pemkot Malang memilih menyewakan sembari menggodok harga sewa yang dianggap sesuai.

Wasto juga memastikan pihaknya sudah mengajukan permohonan taksiran nilai aset Alun-Alun Mal ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). ”Nanti dinilai itu gedung dan semuanya.

Hasilnya berapa, itu yang menjadi dasar menghargai sewa untuk tenant,” imbuhnya. Wasto juga sudah menginstruksikan timnya melakukan identifikasi tenant Alun-Alun Mal.

Dari data Dinas Perdagangan Kota Malang, hingga saat ini masih ada 17 tenant. ”Seluruh tenant yang ada, termasuk Ramayana, masih tetap kami pertahankan.

Karena memang prospeknya ada. Perputaran uang masih jalan. Ketika disewakan, maka tidak akan kosong, ada perputaran ekonomi di sana,” papar Wasto.

Sementara itu, setelah mengetahui keberadaan bos PT SIC Daryono yang tengah sakit stroke di Jakarta, pemkot tetap mengejar data dan dokumen penting yang dibutuhkan untuk mengakhiri kerja sama.

Dokumen yang dimaksud adalah akta perusahaan seperti akta pengelolaan dan kepemilikan perusahaan. ”Kami harus ngecek ke sana apakah ada perubahan akta kepengurusan. Apa ada perubahan kepemilikan dan lain-lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, pihak Ramayana Malang memilih irit bicara terkait rencana bisnisnya. Store Operation Ramayana Malang Bambang Triyono mengatakan belum bisa membeber sikap perusahaan terkait masa sewa yang ditawarkan Pemkot Malang.

”Masih belum tahu kalau itu. Belum mendapat informasi dari pusat (Ramayana Pusat). Semuanya menunggu juga dari pihak pemkot. Kami menunggu saja,” jawabnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani