Narkoba Dikirim Dalam Kemasan Abon








JawaPos.com – Berbagai cara dilakukan pelaku penyelundupan narkoba. Baru-baru ini, Polresta Pekanbaru berhasil mengungkap modus baru pengiriman narkoba. Yaitu menggunakan kemasan abon yang diisi dengan sabu dan ekstasi.







Kemasan itu berwarna biru tua dan biru muda. Di kemasan tampak tertulis abon ikan tuna Raden Intan Lampung. Selain itu juga ada abon ikan lele maupun ikan tenggiri. Bahkan di kemasan tertera izin dari Dinas Kesehatan dan komposisi makanan.







Dari kemasan ini, polisi berhasil mengamankan sabu-sabu sebanyak 8.827 gram atau 8,8 kilogram dan ekstasi 18.070 butir dengan berbagai warna. Barang bukti disita dari dua pria berinisial MK dan MS.



Narkoba kemasan abon yang disita aparat Polresta Pekanbaru. (Virda Elisya/JawaPos.com)







Penangkapan pertama bermula ketika petugas Aviation Security (Avsec) Bandara SSK II Pekanbaru mengamankan MK yang kedapatan menyimpan 40 gram sabu di dalam pembalut yang dikenakannya. Penangkapan dilakukan Selasa (23/10) lalu.







Dari penangkapan MK, polisi melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan MS di salah satu hotel di Pekanbaru. Di sana, polisi menyita dua koper berisi puluhan kemasan abon. Setelah diperiksa ternyata isinya sabu dan ekstasi.







Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto mengatakan, kemasan ini baru pertama kali dijumpai di Riau. Kemasan tersebut memang diproduksi pelaku khusus untuk membawa narkoba.








“Di supermarket tidak ada. Ini bentuk baru. Kalau orang nggak tahu dikira abon. Bandar memang mencetak ini khusus hanya untuk menyimpan narkoba. Jadi satu bungkus itu bisa nyimpan 2 kilogram sabu,” ujar Susanto, Kamis (25/10).








Dari pengakuan dua tersangka yang berasal dari Surabaya, kemasan abon dibuat di Jawa Timur (Jatim). “Yang pasti ini kemasan dari luar Pekanbaru dan Riau. Pengakuannya di Surabaya. Kelihatan kalau alumuniumnya dibuat cukup tebal. Jadi kalau lewat X Ray tidak mudah terdeteksi,” ungkap Susanto.







Barang terlarang itu diakui para tersangka dibawa melalui jalur darat dari Kota Medan. Rencananya diedarkan ke Pulau Jawa. “Datang ke sini, mereka untuk jemput barang. Pengakuan kepada kami baru sekali. Jaringan mereka ada di Jakarta, Palembang, Lampung, Medan dan lainnya,” beber Santo.







Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancamannya pidana penjara seumur hidup.







(ica/JPC)