Nagoro, Desa yang Dihuni Ratusan Boneka Orang-orangan Sawah

Tak ada kemeriahan tatkala sebuah desa tak lagi ditinggali banyak orang. Segala upaya pun dilakukan agar tetap ada “kehidupan”. Berikut tulisan Saqina Noor Pasha Tanjung, mahasiswi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya yang sedang magang di Jawa Pos.

JawaPos.com – Pergilah ke Nagoro. Sebuah desa terpencil yang terletak di Pulau Shikoku, Jepang. Di sana Anda akan bertemu orang-orang yang sedang bekerja di sawah, menunggu bus di halte, atau hanya duduk-duduk di pinggir jalan sembari bercengkerama.

Namun, cobalah untuk menyapa mereka. Tidak akan ada jawaban. Sebab, sesungguhnya orang-orang tersebut bukanlah manusia. Melainkan boneka.



Jalanan yang berkelok-kelok menuju wilayah itu menggambarkan lokasinya yang jauh dari kota. Ke situlah Tsukimi Ayano pulang sejak 2000. Ke desa tempatnya menghabiskan masa kecil.

Ayano pulang membawa kerinduan. Rasa kangen itulah yang membuat perempuan tersebut berjuang menghidupkan kembali desa tercintanya yang nyaris mati.

Nagoro adalah salah satu desa terisolasi di Lembah Iya, Jepang. Penduduknya memilih meninggalkan desa. Mereka yang lebih muda hijrah ke kota besar demi memperbaiki perekonomian. Bukan hanya itu, penduduk yang sudah tua telah meninggal. Akibatnya, desa tersebut kekurangan populasi.

Padahal, pada masa kecil Ayano, lebih dari 300 penduduk tinggal di desa tersebut. Namun, saat ini hanya ada 27 orang yang masih menetap. Tidak ada generasi muda. Mereka yang hidup di sana rata-rata berusia di atas 50 tahun.

Awalnya, Ayano hanya membuat sebuah boneka orang-orangan sawah yang menyerupai sang ayah untuk menakut-nakuti burung di ladang. Tapi, aktivitasnya tak mandek. Dia justru membuat boneka lain secara terus-menerus. Sebab, dia ingin mewujudkan harapan agar desa yang sudah dilupakan tersebut kembali hidup.

Boneka-boneka itu menjadi saksi bisu atas kesepian mendalam yang dirasakan Ayano. Ayano membuat boneka yang merepresentasikan keluarga, tetangga, dan warga setempat yang sudah meninggal. Jumlahnya melebihi penduduk asli yang tinggal di sana.

Suasana sebuah rumah di Desa Nagoro yang penuh dengan boneka (The Straits Times)

Hingga sekarang, total ada 350 boneka yang dibuat. Mereka juga didandani sedemikian rupa agar mirip dengan aslinya sehingga seolah-olah Ayano dapat “menyapa” warga lagi.

Bahkan, Ayano juga meletakkan boneka-boneka buatannya di sebuah gedung sekolah yang kosong. Di dalam ruangan kelas itu mencerminkan suasana belajar-mengajar antara murid dan guru. Bangunan yang telah ditinggalkan tersebut kini jadi museum.

Sebelum boneka-boneka itu ada, Nagoro hanyalah sebuah desa biasa yang tidak dipandang orang. Fritz Schumann, seorang pembuat film asal Jerman, berkunjung ke Nagoro dan membuat film dokumenter pendek pada 2014. Film Valley of Dolls yang menceritakan karya Ayano tersebut akhirnya menarik perhatian dunia.

Keunikan Desa Nagoro menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Lebih dari 3.000 turis asing mengunjungi nagoro per tahun. “Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang dari seluruh penjuru dunia akan datang ke desa terpencil seperti ini,” ucap Ayano sebagaimana dikutip CNN.