Mutilasi Pasar Besar, Psikolog: Pembunuhnya Bukan Serial Killer

Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Pskologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Salis Yuniardi, PhD

Menanggapi kasus dugaan pembunuhan dengan penemuan potongan tubuh korban yang dimutilasi di Pasar Besar Malang (PBM), Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Pskologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Salis Yuniardi, PhD, mengatakan gangguan psikopat memang terkadang membuat manusia melakukan hal diluar nalar.

Namun, pria yang juga seorang Dosen ini berpikiran bahwa pelaku kejadian mutilasi Pasar Besar bukanlah seorang psikopat atau pembunuh berantai, yang bisa juga disebut serial killer.

“Gangguan yang dimiliki pelaku saya rasa belum mengarah ke psikopat. Untuk gangguan semacam psikopat biasanya yang sudah bersifat serial, korbannya akan lebih dari satu,”

Ia menengok kasus lain yang menghebohkan Indonesia sebelumnya seperti kasus Rian di Jombang, atau kasus lain seperti kasus pembunuhan berantai, yang dilakukan oleh Siswanto atau yang dikenal dengan Robot Gedek, yang menggemparkan Jakarta, lebih dari dua dekade silam.

“Atau seperti kasus Iptu Gribaldi, pembunuh berdarah dingin, ada juga kasus Ahmad Suradji atau Dukun AS yang gempar dulu itu, ini pembunhan tunggal karena faktor individu sendiri atau masalah pribadi,” tambahnya.



“Tapi sekalipun ini pembunuhan tunggal, pelaku sudah bisa dikatakan ada gangguan dalam kontrol emosi dan nalar moral,” tambahnya.

Apalagi, menengok banyaknya kasus mutilasi di Indonesia akhir-akhir ini yang seolah mempunyai motif yang sama, dendam pribadi atau persoalan asmara. Seperti yang juga terjadi di Blitar, tubuh korban dimasukkan ke dalam koper oleh korban.

Jika menengok psikologi sosial, banyaknya mutilasi di Indonesia menandakan banyak kemungkinan. Salah satunya adalah adanya depresi sosial sebagai akibat timbunan represi kemarahan dan keputusasaan yang bercampur dengan degradasi moral individu.

“Individu yang depresi tidak tahu lagi ke mana harus berbagi dan mencari pertolongan, karena sosial masyarakat untuk saling peduli di Indonesia kini makin rendah,” tutup Salis.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting: Kholid Amrullah