Musim Semprot, Pupuk Bersubsidi Justru Telat

KOTA BATU – Bagi beberapa petani di Kota Batu, bulan September merupakan momen yang pas untuk melakukan penyemprotan pestisida. Seperti yang dilakukan Zaujan, 52, petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Bumiaji.

Dalam sekali tanam, dirinya memerlukan penyemprotan selama dua kali untuk tanaman jenis sawi daging. Sayangnya, persoalan lain muncul di antaranya sering terlambatnya kiriman pupuk bersubsidi selama ini.

”Tahun lalu itu sulit untuk kiriman pupuknya. Agennya bilang selalu kosong. Akhirnya ya beli yang tidak ada subsidi,” katanya.

Dia merinci jika harga pupuk tanpa subsidi untuk saat ini harganya hingga Rp 15 ribu per kilogram. Sementara yang bersubsidi hanya Rp 1.500 hingga Rp 4 ribu saja. Jika dirinya menggunakan pupuk bersubsidi, artinya petani bisa menghemat hingga Rp 10 ribu.

Sayangnya, hal itu masih terkendala hal lain. Salah satunya, petani harus tergabung terlebih dahulu di gabungan kelompok tani (gapoktan).



”Sama saja. Saya dulu ikut gapoktan. Karena pupuk ini juga sulit didapat, akhirnya terpaksa keluar dari gapoktan,” kata Zaujan. Dia berharap Pemerintah Kota Batu bisa menjadi jembatan untuk penyaluran pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat.

”Harapannya ya bisa dibenahi lagi. Tahun 2018 kemarin sering telat. Akhirnya ya mending keluar dan beli yang tanpa bersubsidi,” tegasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib