Musim Penghujan, Produksi Dupa Anjlok

Musim penghujan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, berpengaruh terhadap industri kecil dan menengah. Salah satunya yakni industri pembuatan dupayang terletak di Desa Petungsewu Kecamatan Dau. Saat musim penghujan, produktifitas dupa di kawasan tersebut mau tidak mau harus menurun karena kurangnya intensitas cahaya matahari yang mencukupi.

DAU – Musim penghujan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, berpengaruh terhadap industri kecil dan menengah. Salah satunya yakni industri pembuatan dupayang terletak di Desa Petungsewu Kecamatan Dau. Saat musim penghujan, produktifitas dupa di kawasan tersebut mau tidak mau harus menurun karena kurangnya intensitas cahaya matahari yang mencukupi.

Seperti yang dialami oleh Minarsih, salah satu produsen dupa di Desa Petungsewu. Wanita paro baya tersebut mengaku, selama musim penghujan produksi dupa buatannya menurun sampai 33 persen. “Normalnya kalau musim kemarau biasanya bisa menghasilkan dupa sampai 6 ton salam satu minggu, kalau sekarang paling banyak hanya bisa produksi 4 ton saja,” kata Minarsih.

Menurunnya produktifitas dupa ini, masih kata Minarsih disebabkan karena semakin panjangnya lama pengeringan yang diperlukan. “Kalau musim kemarau sehari saja sudah kering, kalau mendung begini bisa sampai dua hari baru kering,” ujarnya. Belum lagi jika hujan turun sepanjang hari, pengeringan dupa mentah bisa memakan waktu yang lebih panjang lagi.

Dibantu dengan 10 orang karyawannya, Minarsih biasa mengirim dupa buatannya sampai ke Bali. Dia biasanya mulai kebanjiran pesanan saat mendekati momen hari besar keagamaan. Sayangnya, meski produktifitasnya menurun Minarsih menuturkan bahwa harga dupa dipasaran masih relatif stabil yakni Rp 6000 perkilogram. (ben/iik)

Pewarta: Bayu Eka & Farikh Fajarwati
Foto: Bayu Eka