Muhadjir, Budidaya Terong Mini Ukuran Kelereng Sinergi Jawa Pos

Terong mini yang ditanam oleh Muhadjir memang cukup unik. Sebab, bentuknya tidak seperti terong pada umumnya. Terong ini seperti kelereng, namun lebih kecil, warnanya merah dan bisa bertahan selama lima tahun.

Tak semua orang memilikinya, sebab bibit terong ini sulit didapatkan. Bahkan, Muhadjir mengaku di Jember hanya ada di kebun rumahnya. Kecuali bila ada orang yang membeli bibit padanya untuk ditanam ulang.

Ketika ditemui di rumahnya, pria 72 tahun ini masih tampak sehat.  Memakai songkok putih dan kaos berkerah, dia terlihat bersahaja. Muhadjir menikmati masa tuanya dengan berkebung di samping rumah. Hasil panen dari terong mini itu dijual ke berbagai daerah.

“Banyak daerah yang saya kirimi, ada Jogjakarta juga Surabaya,” terangnya. Kendati demikian, pria kelahiran Banyuwangi tersebut tidak mengkomersialkan tanamannya. Hanya untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Muhadjir mulai menanam terong mini pada 2011 lalu. Hal itu berawal saat dirinya datang ke rumah temannya. Lalu ditawari untuk ikut budidaya tanaman tersebut. Akhirnya dia membawa bibit terong mini dan ditanam di pekarangan rumahnya. 

Ternyata, tanaman tersebut tumbuh dan bisa berbuah. Dirinya semakin tertarik untuk budidaya tanaman tersebut. “Awalnya hanya dua tanaman, namun terus bertambah dengan melakukan cangkok,” ucapnya.

Setelah itu, lanjut Muhadjir, dirinya baru tau jika terong mini itu bisa membantu menyembuhkan diabetes. Akhirnya, dia semakin bersemangat membudidayakan tanaman terong mini karena manfaatnya. “Kalau beli harganya satu tanaman bisa Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu,” akunya. 

Terong mini ini bisa menurunkan  kadar gula darah dalam tubuh penderita diabetes. Kemudian menurunkan tekanakan darah, melancarkan buang air besar (BAB) dan menyembuhkan luka karena dibates maupun luka biasa. “Juga meningkatkan daya tahan tubuh dan vitalitas,” paparnya. 

Dengan berbagai manfaat tersebut, terong mini cukup dibutuhkan oleh banyak orang. Cara mengonsumsinya juga tidak sulit, setelah dipanen, cukup dicuci lalu diminum seperti kapsul atau dikunyah meskipun rasanya pahit. “Hari pertama minum 3 sampai 4 butir menjelang tidur,” jelasnya. 

Muhadjir mengaku sudah ada beberapa yang sembuh dari diabetes karena terong mini tersebut. Hanya saja, tidak diperuntukkan bagi penderita maag akut dan tekanan darah rendah. “Sekarang terong mini ini sudah diujikan di laboratorium,” akunya. 

Pensiunan Puslitkoka tahun 2001 ini menambahkan, pernah ada penderita dengan gula darah 385, turun menjadi 185 pada hari keempat. Namun, efek dari mengonsumsi terong mini baru terasa sekitar satu minggu. 

Cara menanam tanaman ini tidak sulit, sama seperti tanaman lainnya. Bahkan perawatannya juga mudah. Hanya saja, kalau terkena jamur dan hama tidak bisa tumbuh. Untung saja, pria kelahiran 23 September 1945 ini tak memiliki kesibukan lain. Sehingga rutin merawat tanamannya. “Saya tidak pernah kasih tanaman ini pestisida, biar alami,” akunya. 

Sekarang, permintaan terong mini terus berdatangan dari berbagai daerah. Namun hanya untuk konsumsi pribadi.  Muhadjir tak langsung mengirim, tapi melihat tanaman yang tersedia. “Saya tanam banyak bila ada permintaan yang banyak juga,” pungkasnya. 

(jr/gus/ras/das/JPR)