Moh Izzal, Gus Pondok Pesantren yang Juga Crosser Nasional

Moh Izzal adalah seorang anak kiai. Namun, hal tersebut tidak menghalanginya untuk menjadi crosser nasional. Berkat kegigihannya, berbagai prestasi sudah dia raih. Tapi, tetap saja dia tidak meninggalkan rutinitasnya mengaji. Ini karena motonya adalah Mondok Oyi, Balapan Juga Oyi.

Sirkuit di kompleks sekolah Darul Ulum Agung, Jalan Mayjen Sungkono, Kota Malang, Rabu siang (15/8) lalu bising dengan deru knalpot. Tak lama berselang, motor trail 985 warna biru keluar menerobos debu yang berterbangan.

Ketika itu, Moh Izzal memang keluar lintasan untuk menyudahi latihan. Selain dia, ada enam crosser muda lain yang menjajal sirkuit sepanjang 1.050 meter itu. Lokasi sirkuit berstandar nasional ini berada di belakang Pondok Darul Ulum Agung. ”Di sini banyak crosser. Masih muda-muda,” kata Gus Izzal, sapaan akrab Moh Izzal.

Di pondok pesantren ini, mengendarai motor cross memang menjadi ekstrakurikuler. Mungkin karena inilah, dia ketularan untuk menekuni motor cross. Sudah lebih dari 50 medali yang dihasilkan oleh Gus Izzal. Kebetulan, Gus Mudjib, ayah Gus Izzal, juga merupakan seorang crosser. ”Istilahnya, mondok oyi, balap oyi,” imbuhnya.

Alumnus SMP Darul Ulum Agung itu kemudian bercerita. Saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SDN Kauman 1, dia sudah meraih juara Lumajang Cup kategori PW 50cc. Ketika itu, dia menunggangi PW65 tahun 2007. Hanya berselang dua bulan setelah dia dibelikan motor oleh ayahnya.

Di sela-sela wawancara, Gus Mudjib menimpali. Izzal mahir mengendarai motor cross setelah meminta dibelikan sepeda. Ini karena setelah beli sepeda, Gus Izzal malah menginginkan motor cross. Dia masih ingat, waktu itu hari Rabu. Keesokan harinya, Izzal langsung mencopot dua roda kecil di roda belakang sepeda. ”Jumat dia langsung menaiki untuk pergi Jumatan,” kata Gus Mudjib.

Tidak lama setelah dibelikan sepeda, akhirnya Izzal dibelikan motor cross. ”Yang di Lumajang itu saya tidak tahu, tiba-tiba pulang sudah bawa piala. Dia ikut pamannya,” jelasnya. Dari kelas 50cc, tahun 2008 Izzal sudah pindah ke motor 65cc. ”Seumurannya, dia itu pembalap paling gendut nasional. Masih SD tapi bobotnya 50 kilogram. Tidak ideal untuk pembalap,” imbuh Gus Mudjib menceritakan kiprah anaknya.

Namun, Izzal kembali menimpali, dirinya tidak menghiraukan hal tersebut. Menurut dia, yang paling penting adalah merasa senang. Maka dari itu, dia terus berlatih. Tahun 2009, dia pun sudah beralih ke motor kelas 85cc. Namun, saat bertanding supercross di Surabaya waktu itu, dia hanya masuk 10 besar. Tapi, hadiahnya lumayan, yakni 50 dolar. ”Saya bagikan ke anak-anak,” ucap peraih juara 1 MXz Novice Total Moto 2013 Jogjakarta ini lalu tertawa.

Alumnus SMA Darul Ulum Agung itu menyatakan, perjalanannya membalap tidak selalu mudah. Meski dirinya sudah menjadi juara nasional Motocross 250cc tahun 2013. Semua series saat itu dia lalui dengan semangat. Ada yang menyisakan kesan lucu, ada juga yang menyakitkan karena cedera.

Ya, saat bertanding di series Wonosobo 2016, Izzal harus mengakhiri musim balapan lebih cepat. Dia meninggalkan sirkuit selama dua bulan karena cedera. Sedang kejadian lucunya terjadi pada musim selanjutnya, yakni tahun 2017. ”Itu balapan masih beberapa putaran lagi ke finis. Saya di posisi kedua terdepan. Tapi tutup tangki lepas dan bensin masuk di sela-sela celana. Saya kepanasan sampai usai pertandingan,” kata pria 21 tahun ini.

Selain itu, remaja kelahiran 29 Mei 1997 ini juga berjaya pada event cross nasional di Riau awal 2018 lalu dengan menjadi juara 1. Ketika itu, dia hanya kalah dari crosser nasional Andre Sondakh. ”Itu saya tidak bisa lupa,” kata peraih juara 1 MXz Movice Gumul Kediri itu.

Sedangkan untuk series di Ciamis, Jawa Barat, bulan ini, dia harus menahan sakit. Lantaran, seminggu lalu, dia terjatuh dari motor saat latihan di sirkuit pondok. Meski sedang sakit, dia memaksakan diri untuk tetap berangkat. Karena dalam tiga seri sebelumnya, dia mendapatkan delapan poin.

Saat ini, dia juga masuk kandidat Pelatda Jatim untuk PON cabang motocross tahun depan. Jika tak ada aral melintang, Izzal akan menjadi andalan Jawa Timur di PON. ”Saat Menpora Imam Nahrawi meresmikan masjid di pondok, dia bilang PON tahun depan akan disertakan cabor motocross, sebelumnya tidak pernah dilombakan,” kata peraih juara 1 SE 85cc Open Powertrack Gunung Klotok Brigif Kediri 2015 ini.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Editor: Amalia
Penyunting: irham Thoriq