Moh. Febriansyah, Mahasiswa UB Raih Medali Emas dalam Event Teknologi di Tingkat Internasional

Olah Kulit Durian Jadi Penjernih Minyak Jelantah

Selama ini setelah makan durian, kulitnya bakal dibuang begitu saja. Namun, di tangan Mohammad Febriansyah, kulit durian bisa diolah menjadi bahan untuk mengolah minyak jelantah agar kembali seperti aslinya (minyak goreng yang baru).

Pagi itu suasana tampak sepi. Maklum saja, pada hari Sabtu Universitas Brawijaya (UB) sedang libur dari aktivitas perkuliahan. Hanya ada beberapa mahasiswa yang menghadap laptopnya dan mengerjakan sesuatu di gazebo UB, termasuk Mohammad Febriansyah.

Dia adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) yang meraih medali emas dalam event Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEx 2018) pada 6 Februari 2018. Dalam event tersebut, dia berhasil mengalahkan peserta dari berbagai negara di Asia.

Pertemuan yang baru pertama itu tidak membuat perbincangan antara wartawan koran ini dengan Febri terlihat kaku. Suasana akrab terjalin saat memulai perbincangan tentang EF-Dhusenol. Itu merupakan alat prototipe yang dia buat untuk meningkatkan kualitas minyak jelantah. Rasa bahagia terpancar dari wajahnya saat menjelaskan proses kerja alat tersebut.

”Minyak jelantah itu nanti akan melalui tiga kali proses penyaringan dalam EF-Dhusenol–yang pada alat tersebut namanya Adsorben. Yaitu, serbuk dari bagian putihnya kulit durian yang ditumbuk hingga halus,” kata mahasiswa Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UB tersebut.



Dia melanjutkan, bagian kulit putih dari durian di-oven selama satu jam dengan suhu 300 derajat Celcius. Setelah itu kulit durian ditumbuk sampai halus dan dinamai Adsorben.

”Serbuk kulit durian itulah yang berfungsi meningkatkan kualitas minyak jelantah,” terangnya.

Pada tahap pertama, minyak jelantah dimasukkan ke dalam penyaringan yang pertama. Di tahap awal ini diberi nama proses penyaringan dari sisa-sisa makanan yang ada di dalam minyak. Misalnya, setiap selesai menggoreng pasti akan ada warna hitam-hitam kecil.

Jadi, sebelum diproses lebih lanjut minyak harus bersih. ”Istilahnya dimasukkan ke selter yang pertama untuk membersihkan kotoran,” terang Febri.

Proses selanjutnya dimasukkan ke selter kedua. Di tahap kedua inilah, serbuk Adsorben bekerja untuk membuat minyak jelantah menjadi lebih bagus kualitasnya. Ada sebuah gumpalan kecil yang di dalamnya ada serbuk Adsorben. Nanti minyak jelantah akan diproses di tempat tersebut.

”Serbuk Adsorben yang menyerap minyak jelantah hingga kualitasnya lebih baik,” ujar mahasiswa angkatan 2014 tersebut.

Selanjutnya, minyak jelantah yang sudah melewati proses pengendapan oleh serbuk Adsorben akan disaring kembali. ”Tahap ketiga, ada penyaringan kembali setelah diproses menggunakan serbuk Adsorben,” ujarnya.

Karena untuk memastikan kebersihan dari minyak setelah proses penyaringan. ”Proses selter ketiga untuk menyaring minyak jelantah agar bersih dari serbuk Adsorben,” papar pemuda asal Palembang tersebut.

Febri menjelaskan, dari hasil proses penyaringan dan pengendapan minyak jelantah akan meningkatkan kualitasnya. Misalnya untuk warna dan bau akan kembali seperti minyak aslinya (minyak goreng yang belum digunakan). Meskipun secara kualitas masih tidak bisa disamakan dengan minyak goreng sebelum dipakai.

”Karena masih akan dilakukan uji laboratorium untuk memastikan kualitasnya. Hanya, untuk saat ini, indikator dari meningkatnya kualitas minyak jelantah dinilai dari warna dan baunya,” ungkapnya.

Selain itu, keunggulan dari alat EF-Dhusenol sangat praktis untuk dibawa ke mana-mana. Proses pengoperasiannya juga sangat sederhana, tidak ribet, dan semua orang bisa melakukannya.

”Kelebihan yang lain, yaitu memanfaatkan limbah kulit durian. Biasanya setelah makan durian, kulitnya langsung dibuang,” tutup mahasiswa semester 8 tersebut.

Sementara itu, mengenai ide pembuatan alat EF-Dhusenol. Menurut dia, itu berangkat dari pengamatannya yang sering melihat penjual lalapan maupun makanan yang melalui proses digoreng lebih dulu. Minyak yang digunakan tidak diganti mulai dari pertama menggoreng.

”Paling hanya ditambahi minyak goreng lagi jika minyaknya berkurang,” ujar pemuda kelahiran 22 Februari 1997 itu.

Dia menambahkan, jika minyak jelantah yang digunakan untuk menggoreng makanan itu berbahaya untuk kesehatan. Meskipun untuk kesehatan pengaruhnya dalam jangka panjang.

Misalnya menderita penyakit kanker dan yang paling cepat terlihat naiknya kolesterol di dalam tubuh. ”Gagasan tersebut pun langsung saya diskusikan dengan dosen pembimbing,” pungkasnya.

Pewarta: Ali Afifi
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Dokumentasi Moh. Febriansyah