Modifikasi Kendi untuk Roasting Kopi

Beragam cara dilakukan untuk menemukan cita rasa kopi terbaik. Yusli Obing pun begitu. Di lingkungannya, sesama pencinta kopi, Yusli sampai dijuluki ”profesor kopi”.

 

MIFTAHUL HUDA

 

National Coffee. Begitu nama kafe milik Sam Bejo–sapaan akrab Yusli Obing.



Kafe yang berada di Jalan Raya Candi VI, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, itu mengusung gaya interior vintage.

Di lantai dua, ada sebuah mikrolet yang dimodifikasi menjadi semacam meja bar. Bagi Sam Bejo, mikrolet itu punya nilai historis.  ”Mobil ini saya beli dari mertua saya, waktu ada peremajaan (angkutan umum). Saya beli untuk dagang susu. Pada 2012 lalu, saya biasa mangkal di depan Gereja Ijen,” kata Sam Bejo.

Dari situ, Sam Bejo kenal dengan Rudi Ghocir, seorang penikmat kopi. Dari Rudi, petualangan Sam Bejo mencari kopi pun dimulai. Dia memulainya dari Trawas, Agropuro, lalu Ijen.

Hampir semua kota/kabupaten di Jawa Timur sudah pernah disambangi Sam Bejo. Tujuannya untuk mencari bibit kopi terbaik. Juga belajar cara mengolah kopi hingga tercipta rasa yang luar biasa.

Tak hanya berhenti di Jawa Timur, Sam Bejo juga mencari hingga ke Jawa Barat. Di sana, dia mengenal Halu Kopi, Kopi Gunung Puntang, dan jenis Kamojang.

Dari penjelajahannya itu, muncul keinginan untuk mengangkat derajat kopi Malang. ”Ya sekitar tiga tahun saya belajar dari berbagai tempat hingga ke luar daerah. Tujuannya ya belajar, setelah itu saya kembangkan di Malang,” beber pria berambut pirang ini.

Sam Bejo menyatakan, ada alasan mengapa dia menyukai kopi. ”Menurut saya, kopi itu unik. Lantaran bisa menghasilkan rasa yang berbeda dengan treatment tertentu,” kata dia.

Menurut dia, memperlakukan kopi sama halnya dengan memperlakukan tamu. Harus dijamu dengan benar.

Penjamuan yang dimaksud adalah treatment. Mulai dari memilih bibit misalnya, dia menjelaskan bibit yang terbaik adalah bibit dari kawasan itu sendiri. Selain mudah didapat, bibit tersebut biasanya sudah mengenal iklim daerah asalnya.

Perawatan tanaman kopi juga harus dilakukan semaksimal mungkin. Mulai dari bagaimana menangani hama, hingga membersihkan kotoran yang mengganggu.

Kemudian, biji kopi terbaik tidak boleh dipanen kurang dari enam bulan. Juga tidak boleh lebih dari dua tahun.

”Setelah proses itu, kopi tidak boleh asal dijemur di tanah. Harus sesuai suhu dan juga tingkat kelembapan. Kalau dijemur di tanah, kopi akan menguap karena suhu dan kelembapannya yang kurang sesuai. Ketika disangrai hasilnya jelek,” sambung bapak tiga anak tersebut.

Berkat kerja kerasnya, dia kini dimintai para petani kopi se-Malang Raya untuk melakukan pendampingan guna meningkatkan hasil panen kopi yang berkualitas. Bukan hanya itu, kepeduliannya yang tinggi dengan kopi membuatnya mampu mendirikan sebuah forum Kopi Kita dan Kopiko (Komunitas Pencinta Kopi).

Kegiatannya seputar edukasi terhadap petani. Juga ada penelitian lanjutan mengenai biji kopi.

Terbaru, Sam Bejo menggandeng Manuel Diaz, seorang pengamat kopi dari Meksiko. Manuel juga meneliti kopi. Katanya, ada 1.200 karakteristik rasa kopi di dunia.

”Seperti yang saya bilang, di sinilah keunikan sebuah biji kopi. Jika dianalisis, kecekatan tangan barista itu hanya 10 persen pengaruhnya, 60 persennya dari treatment petani, dan 30 persennya itu pas tahap roasting,” kata dia.

Untuk roasting, Sam Bejo punya alat kreasi sendiri. Dia memanfaatkan kendi berdiameter sekitar 15 sentimeter yang dimodifikasi sedemikian rupa. Lengkap dengan alat pengatur suhu.

”Itu ceritanya saya ingin membeli alat roasting untuk keperluan kedai. Tapi tak sanggup beli alatnya yang harganya jutaan rupiah. Saya lalu ke pasar besar dan tak sengaja melihat kendi. Saya beli karena saya pikir itu bisa digunakan,” kata dia.

Sam Bejo mengklaim, alat roasting buatannya membuat kopi memiliki tingkat kematangan yang sempurna. Lantaran panas yang dibutuhkan tidak seekstrem alat modern.

”Dulu beli kendinya seharga Rp 24 ribu. Bayangkan kalau saya harus membeli alat sangrai modern, ya habis modal saya,” tutup Bejo.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Indra Mufarendra
Fotografer          : Miftahul Huda