Mirisnya Minat Baca Pemuda Indonesia, Taufiq Ismail Buka Suara – Pendidikan

Taufiq sangat prihatin dengan keadaan anak-anak Indonesia saat ini yang kurang membaca. Bahkan kurikulum membaca pun sudah sangat berkurang.

Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia sangat tertinggal dalam hal tugas membaca buku. Padahal, membaca buku itu tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga dapat melatih kita untuk terus kreatif serta ingin tahu.

Rasa prihatin tersebut membuatnya dan para sastrawan tergerak untuk terus mengajukan proposal kepada pemerintahan Indonesia agar budaya membaca terus ditingkatkan.

Taufiq Ismail lalu membacakan data-data mencengangkan mengenai kurangnya budaya membaca di Indonesia, bahkan di kurikulum Indonesia. ’’Tidak memungkiri jika saat ini teknologi sudah semakin canggih sehingga buku-buku karangan Marah Roesli, Merari Siregar, Abdul Muis, Hamka, dan Sutan Takdir Alisjahbana, sulit dipahami bagi pemuda zaman kini,’’ papar Taufiq pada para pelajar Indonesia di Korea Selatan tersebut.



Para pemuda hanya tinggal membuka internet jika mendapat tugas atau membutuhkan informasi apapun yang mereka butuhkan. Hal ini tentu sangat ironis mengingat tidak tersampaikannya esensi dari sebuah buku karena mereka hanya tinggal membaca ringkasannya di internet.

’’Apabila kamu suka menulis, dan tiba-tiba punya ide ketika sedang sibuk, jangan ditunda, tapi tulislah. Menulis bisa dimana saja. Tidak selalu harus di buku. Tulis Ide-idemu dimana saja. Jangan menunggu nanti. Biar tidak lupa,” ujar Taufik kepada hadirin.

Sebelum acara berakhir, Taufiq Ismail pun membacakan beberapa puisi beliau. Puisi pertama dibuat untuk Ibu Ati yang telah menemaninya berpuluh-puluh tahun lamanya. Kemudian disusul puisi tentang Ibu yang peserta mengharu biru serta beberapa puisi lainnya.

Taufiq Ismail berjuang lewat tulisannya, lewat puisinya, lewat kata-katanya. Dari sanalah beliau mengajarkan arti perjuangan, persahabatan, keluarga, cinta dan kehidupan. Pepatah mengatakan bahwa kata-kata itu ibarat pedang yang siap mengiris manusia jadi dua.(ina/JPC)

Source link

Source link