Miris! Riau Jadi Pintu Penyelundupan Sindikat Satwa Internasional

JawaPos.com – Sindikat perdagangan satwa internasional semakin mengkhawatirkan. Beberapa daerah di Indonesia pun kerap menjadi pintu masuk perdagangan satwa tersebut. Adapun salah satunya adalah Provinsi Riau.

“Riau salah satu pintunya mereka (sindikat perdagangan satwa internasional),” kata Direskrimsus Polda Riau, AKBP Andri Sudarmadi kepada ANTARA di Pekanbaru, Minggu (15/12).

Terbukti pada Sabtu (14/12) dini hari kemarin, pihak korps bhayangkara berhasil menggagalkan penyelundupan satwa dilindungi. Dari pengungkapakan kasus ini, polisi menyita empat ekor bayi singa Afrika, seekor bayi leopard, dan 58 ekor kura-kura Indiana Star.

Selain polisi, pada Sabtu malam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau juga menyelamatkan tiga ekor bayi orangutan yang ditinggalkan orang tak dikenal di kawasan jembatan Sungai Sibam, Kota Pekanbaru.

Dari pengungkapan kasus tersebut, polisi menangkap Yat dan IS dua pria yang hendak menyelundupkan satwa tersebut. Keduanya kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Atas perbuatanya, keduanya terancam hukuman 10 tahun penjara. Hal ini karena diduga terlibat organisasi besar sindikat perdagangan satwa internasional.

Dari hasil penyelidikan sementara, Andri mengatakan aksi penyelundupan satwa melalui Provinsi Riau itu merupakan yang kedua kalinya. Aksi pertama dilakukan pada Oktober 2019 lalu. Saat itu, tersangka mengaku menyelundupkan seekor bayi Cheetah.

Modus operandinya, diselundupkan melalui pelabuhan tikus di Kota Dumai dan di bawa ke Pekanbaru. “Tujuan akhir mereka juga sama-sama ke Lampung,” jelas Andri.

Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi menegaskan, Polda Riau masih memburu pelaku lainnya hingga tuntas. Menurut dia, kasus ini tidak akan berhenti di dua tersangka ini.

Agung mengatakan setiap ekor singa dan leopard dihargai hingga USD 32.000 atau sekitar Rp 450 juta di pasar gelap. Sementara kura-kura Indiana Star memiliki harga USD 1.200 atau sekitar Rp 17 juta.

Harga tinggi itu disinyalir menjadi alasan para penyelundup untuk nekat melakukan aksi kejahatannya. Sebagai bagian dari dunia internasional, Indonesia katanya akan menghentikan kejahatan penyelundupan satwa tersebut, mengingat satwa itu sudah dalam kategori terancam punah.

“Ini bentuk kejahatan terorganisir dengan sistem terputus. Satu dengan lainnya memiliki tugas dan perannya masing-masing. Saya akan sampaikan setelah semuanya terungkap,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau, Suharyono mengatakan seluruh satwa itu dalam kondisi baik, meski awalnya sempat stres karena perlakuan yang tidak baik oleh tersangka. Saat ini satwa itu berada di Kebun Binatang Kasang Kulim, yang berada di bawah binaan BBKSDA Riau.

“Lembaga terdekat adalah Kasang Kulim, yang punya fasilitas lebih baik. Kita juga kerjasama dengan dua dokter hewan untuk memantau kesehatan satwa ini sampai proses hukum selesai,” ujar Haryono.

“Sementara orangutan akan segera kita evakuasi ke SOCP (Sumateran Orangutan Conservation Programme) di Sumatera Utara,” tukasnya.