Miris, Ini alasan Pelaku Tega menyekap 3 anaknya…

Kasus penyekapan oleh Alikah, 47, warga Sudimoro, Kecamatan Bululawang, terhadap ketiga anak kandungnya, Kamelia Nawal, 13; Zakiah Salsabila, 11; dan Dhorifa Nur Zahro, 6, yang terungkap pada Selasa lalu (2/1) diduga kuat bermotif dendam.

KABUPATEN – Kasus penyekapan oleh Alikah, 47, warga Sudimoro, Kecamatan Bululawang, terhadap ketiga anak kandungnya, Kamelia Nawal, 13; Zakiah Salsabila, 11; dan Dhorifa Nur Zahro, 6, yang terungkap pada Selasa lalu (2/1) diduga kuat bermotif dendam.

Bukan dendam kepada ketiga anaknya, tapi pada M. Romli, mantan suami sekaligus ayah dari ketiga bocah malang tersebut. Sebab, Romli saat masih menjadi suaminya dianggap tidak pernah mencukupi ekonomi keluarga.

Selain itu, Alikah juga menuding Romli pernah (maaf) ”meniduri” salah satu anaknya tersebut. Bahkan, Alikah sudah melaporkan Romli ke Polsek Bululawang dan Polres Malang atas tudingan ini.

Adanya dendam itu disampaikan Romli saat ditemui di rumahnya, Jalan Wakhid, Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, kemarin (3/1). Menurut Romli, sebelum bercerai pada 2013, dia kerap dituding berselingkuh oleh istrinya. Setiap pulang kerja, jika penghasilannya sedikit pasti dicurigai diberikan kepada perempuan lain. ”Saya sempat diusir, jadi saya memilih pulang ke rumah orang tua,” tutur Romli.

Romli menyatakan, selama proses gugatan cerai yang dilayangkan Alikah, dia tidak pernah sekalipun menghadirinya. Karena sebenarnya ingin mempertahankan biduk rumah tangga demi masa depan anaknya.



”Pas awal berpisah, anak pertama saya (Kamelia) sempat ikut saya. Namun, lima bulan kemudian saya diancam Alikah dilaporkan ke polisi jika tidak mengembalikan Kamelia,” terangnya.

Semenjak perceraian itu, Romli selalu menyempatkan untuk menjenguk ketiga anaknya. Biasanya dalam dua minggu sekali, dia menemui anaknya di rumah Alikah. Namun, pertemuan dengan anaknya memang tidak pernah lama.

Sebab, dia merasa sungkan dengan tetangga karena mereka sudah bercerai. ”Biasanya saya berkunjung hanya 10 menit, setelah memberikan sembako atau makanan, saya lantas pamit pulang dan memberikan uang saku kepada mereka sekitar Rp 200 ribu–Rp 500 ribu,” paparnya.

Romli menambahkan, rutinitas seperti ini bertahan hingga dua tahun lamanya. Hingga akhirnya pada 2016 lalu, dia mendengar kabar dari anaknya jika mereka sudah tidak bersekolah.

Tapi, saat ditanya lebih lanjut, ketiga anaknya hanya geleng-geleng kepala sambil meneteskan air mata. ”Waktu ngobrol, ibunya selalu mengawasi. Mungkin karena merasa takut jadi mereka tidak banyak bicara,” imbuhnya.

Sejak itu ketiga anaknya sudah tidak boleh keluar rumah. Alikah melarang anaknya bertemu dengan Romli. Karena itu ketiganya ”disekap”, tidak boleh menemui siapa pun. Kecuali dalam satu bulan sekali, ketiganya kadang diajak Alikah ke Sumber Maron Pagelaran. (pit/jaf/c2/abm)