Mirip Masjid Taj Mahal, Jadi Mercusuar Pesantren

Meski terbilang bangunan baru, keunikan Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu di Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, banyak menarik perhatian masyarakat. Bentuknya yang sekilas mirip Masjid Taj Mahal, India, menyuguhkan keindahan khas arsitektur masjid kuno.

Jika di India ada Taj Mahal, di Kabupaten Malang ada Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu. Selama ini, tidak sedikit orang yang menyebut masjid yang berada di Desa Karang Widoro, Kecamatan Dau, itu sebagai Masjid Taj Mahal. Penyebutan itu tentu bukan tanpa alasan. Meski tidak kembar identik, Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu cukup mirip dengan Taj Mahal.

Ketua Yayasan As-Sunnah Husnul Khotimah Ustad Deden Ferry Yuliantoro mengakui, selama ini banyak yang menyebut Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu sebagai Masjid Taj Mahal India. ”Saya sendiri pas pertama ke sini dan melihatnya memang seperti Taj Mahal,” kata dia sambil tersenyum. Hal serupa mungkin saja juga dirasakan oleh orang-orang yang melihat masjid itu selama ini.

”Kalau dari utara (masjid) memang terlihat menara dan kubahnya, mungkin karena itu (disebut mirip Taj Mahal),” kata pria asal Depok, Jawa Barat, itu. Masjid tersebut berada satu kawasan dengan Pondok Pesantren Darus Sunnah yang dikelola Yayasan As-Sunnah Husnul Khotimah yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2 hektare.

Menurut Deden, secara pasti dia tidak mengetahui apakah bentuk masjid mengadopsi Taj Mahal atau tidak. ”Secara pasti yang tahu adalah tim pembangunan dulu. Tapi mungkin juga ingin seperti itu (Taj Mahal),” kata dia. Bangunan dibuat menarik, sehingga orang yang lewat akan tertarik untuk masuk dan beribadah. ”Selain itu juga agar nyaman untuk beribadah,” kata Deden.

Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu mulai direncanakan dibangun sejak 2012 lalu. Bermula dari keinginan Ustad Abdullah Hadrami untuk mendirikan pondok pesantren. ”Pada 2012 mulai membeli tanah sedikit, dan proses pembangunan mulai 2013,” kata dia.

Proses pengerjaan cukup lama. Bentuk yang unik membutuhkan detail pengerjaan yang serius dan memakan waktu. ”Memang lama dan baru pertengahan 2017 selesai,” kata dia. Pembangunan masjid, lanjut Deden, juga didahulukan daripada pesantren. ”Ya masjid didulukan, karena sebagai ikon dan mercusuar pembinaan agama Islam terhadap masyarakat dan santri,” ujar dia.

Sekilas Masjid Salman Al Farisi Radhiyallahu’anhu memang mirip dengan bangunan yang masuk daftar keajaiban dunia yang berada di India itu. Berdiri kokoh, dengan 7 menara dan 4 kubah kecil serta 1 kubah utama, masjid dengan luas 1.700 meter persegi itu dibalut dengan warna krem. Keberadaan sejumlah ukiran di dinding luar membuat masjid terlihat semakin indah.

Di bagian dalam masjid, terlihat adanya perpaduan interior tradisional dan modern. Seperti hadirnya lampu tempel gaya klasik yang ada di empat tiang. Selain itu, di bagian depan, terdapat mihrab imam yang dibuat dengan marmer kombinasi warna abu-abu dan cokelat tua. Serta dinding depan dilapisi marmer warna cokelat muda. Semua terlihat klop, dengan jendela dan pintu dengan kusen kayu serta kaca hias warna merah dan cokelat.

Pewarta : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani
Fotografer : Laoh Mahfud