Minimal Seminggu, Santri Harus Nyepi di Ruang Khusus

Di Malang Raya, ada sejumlah pesantren yang memiliki metode tak biasa untuk menggembleng santrinya. Pesantren tersebut menjadi pusat riyadhoh (tempaan diri secara religi). Selama bulan Ramadan ini, Jawa Pos Radar Malang mengungkap apa saja yang dilakukan di pesantren tersebut.

Suasana Pesantren Baiturrohmah sedang sepi karena selama Ramadan santrinya diliburkan.

Suasana Pondok Pesantren Baiturrohmah di Jalan Ciliwung, Kota Malang, kemarin (27/5) cukup lengang. Sama sekali tak ada lalu-lalang santri. Saat bulan Ramadan, berbeda dengan pesantren pada umumnya, pesantren di tempat ini justru meliburkan santri-santrinya.

Jangan dibayangkan santri-santri di tempat ini masih anak-anak maupun remaja seperti pesantren lain. Mayoritas, santri di tempat ini sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Sebab, pesantren di tempat ini fokus pada tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Oleh karena itu, tidak ada pelajaran tentang ilmu agama di pesantren ini. Yang ada adalah proses pembersihan jiwa dengan berbagai ritual.

Salah satu yang utama dari aktivitas di pesantren ini adalah pelaksanaan khalwat. Dalam bahasa awamnya, khalwat berarti berkontemplasi atau menyepi dari ingar bingar urusan dunia. Aktivitas khalwat dilakukan di salah satu ruangan khusus di Baiturrohmah yang cukup sederhana.

”Kami ada pilihan, yakni selama satu minggu atau enam minggu penuh melakukan khalwat,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Yayasan Bimbingan Kerohanian Islam Pondok Pesantren Baiturrohmah Malang Drs KH A. Cholil Arphaphy MM kemarin (27/5).

Untuk diketahui, yayasan inilah yang membawahi Pondok Pesantren Baiturrohmah. Yayasan ini sudah terdaftar sejak 2004 silam. Sedangkan untuk Pesantren Baiturrohmah sudah berdiri sejak 1948 atau tiga tahun setelah kemerdekaan bangsa ini.

KH Cholil melanjutkan, selama melakukan khalwat atau menyepi, santri di tempat ini ditaruh di dalam ruangan. Di tempat inilah, mereka memperbanyak berzikir dan berpikir atas kebesaran ciptaan Allah SWT. Zikir diperlukan untuk membersihkan hati dari aneka macam penyakit seperti sombong, iri hati, dengki, dan lain-lain. ”Dan selama proses khalwat itu, santri wajib berpuasa,” kata alumnus IAIN Malang (sekarang UIN Malang) ini.

Menurut dia, proses membersihkan hati ini sangat penting bagi kehidupan seseorang. Siapa pun dia. Mulai dari petani, pedagang, pegawai, pejabat, hingga pengusaha. Lantaran, orang bisa hidup tenang jika hatinya bersih. Dia mencontohkan, orang yang iri pada kehidupan orang lain, salah satunya karena hatinya tidak bersih.

”Kalau orang iri itu kan tidak enak hidupnya,” katanya. ”Semisal orang kaya tapi hidupnya tidak tenang, ya karena masih mempunyai penyakit hati itu,” imbuhnya.

Karena alasan inilah, yang menjadi santri di tempat tersebut dari berbagai profesi. Bahkan, banyak yang mantan preman. ”Kalau sudah gabung di pesantren ini otomatis sudah tobat,” kata pria yang sehari-hari tinggal di Mojokerto tersebut.

Untuk saat ini, menurut KH Cholil, total santri yang pernah digembleng di pesantren ini mencapai 180 ribu orang. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Pesantren ini mempunyai banyak santri karena setiap minggu rata-rata ada 200 orang yang melakukan khalwat.

Untuk mengakomodasi besarnya jumlah santri, pesantren ini mempunyai DPD atau dewan pengurus cabang. Totalnya, ada 38 DPD dari berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. ”Kalau pusatnya di Kota Malang, DPD itu cabang kami,” imbuhnya.

Saat ditanya apakah ajaran ini murni ajaran Islam, KH Cholil memastikan kalau ajaran tersebut murni Islam. Tidak ada ritual yang bersifat kejawen. Semisal saat santri puasa, semuanya berpuasa sebagaimana ajaran Islam. ”Kalau puasa mutih itu kan kejawen,” jelas pria satu anak dan satu cucu ini.

Untuk diketahui, puasa mutih adalah puasa yang berbuka puasanya hanya boleh dengan makanan berwarna putih, misal garam, nasi putih, dan air putih.

Tak hanya itu, aktivitas khalwat ini dalam istilah thoriqoh (jalan menuju Allah SWT), diberi nama Thoriqoh An Naqsyabandiyyah Al Kholidiyyah Al Aliyyah. Thoriqoh ini termasuk dalam jajaran Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaraoh An Nahdliyyah (Jatman). Untuk diketahui, Jatman adalah organisasi thoriqoh yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU).

”Jadi, kita ini NU karena berada di bawah Jatman, saya juga termasuk pengurus Jatman Provinsi Jawa Timur,” katanya.

Selanjutnya, setiap thoriqoh mempunyai mursyid atau seorang guru. Mursyid di thoriqoh ini adalah KH Moh. Sholeh Hudi Muhyidin Al Amin. Mursyid ini putra dari KH Muhammad Solahudin yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Baiturrohmah pada 1948 silam.

Pewarta: Irham Thoriq
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Irham Thoriq