Metode BAMELE Bikin Petani Bawang Nganjuk Raup Keuntungan Ganda

JawaPos.com – Kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam meningkatkan inovasi demi menghasilkan komoditas yang berkualitas dan berdaya saing turut memotivasi petani dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Mereka kini sudah mengubah metode budidaya bawang merah. Yakni menggabungkan usaha tani bawang merah bersamaan dengan budidaya ikan lele.

Petani setempat menyebutnya dengan metode BAMELE alias Bawang Merah dan Lele. Hasilnya luar biasa. Petani bisa menikmati keuntungan ganda. Keuntungan tidak hanya dari hasil bawang merah, juga dari panen lele.

Hasilnya itu dirasakan oleh Susanto. Petani asal Dusun Padangan Desa Banaran Kulon, Kecamatan Bagor itu menyebut, tujuan awal BAMELE tersebut selain meningkatkan pendapatan petani, juga mengajak petani berbudidaya yang sehat dan ramah lingkungan.

“Ini cara budi daya nonpestisida. Tidak pakai bahan kimia karena di bawahnya ada lele. Untuk pengendalian hama kami gunakan lampu light thrap dan pengendali hayati. Jadi produk bawang merah kami sehat dan aman dikonsumsi,” kata Sutanto kepada Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi.



“Buktinya ikan lele bisa hidup dengan baik,” imbuh Sutanto.

Kamis (11/7), Suwandi bersama rombongan Ditjen Hortikultura mengunjungi pertanaman bawang merah miliknya dengan metode BAMELE.

Kepada Suwandi, Susanto memaparkan, budi daya dengan metode BAMELE sangat sederhana dan benar-benar mengoptimalkan lahan. Dalam parit atau got lahan bawang merah berukuran lebar 40 sentimeter, bisa ditebar bibit lele berukuran diameter kepala 6 sampai 7 milimeter. Jumlahnya mencapai 132 ribu ekor per hektare. Umur pemeliharaan lele sama dengan umur panen bawang merah, 60 sampai 70 hari.

“Hasilnya sangat memuaskan. Bisa dipanen bawang merah kelas organik 16 hingga 17 ton per hektare plus 10 ton lele. Harganya saat ini juga lagi bagus, bawang merah varietas Tajuk di petani dihargai Rp 16 ribu per kilogram, sementara lele nya Rp 15 ribu per kilogram. Sangat menguntungkan,” ungkapnya.

Sementra itu, Dirjen Hortikultura Suwandi sangat mengapresiasi cara unik dan inovatif petani Nganjuk dalam berbudi daya bawang merah itu. Metoda Bamele dianggap sangat ramah lingkungan. Metode itu sangat menarik dan bisa memberi keuntungan berlipat bagi petani maupun lingkungan secara umum.

Petani menerapkan budi daya nonpestisida. Cukup mengandalkan lampu perangkap hama (light thrap) untuk mengatasi hama dan saluran air menjadi lebih terjaga karena diisi lele.

“Hasil panen keduanya juga sehat dan aman dikonsumsi. Pendapatannya double. Bisa ratusan juta per hektare. Jadinya multipurpose. Cocoklah dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk terus meningkatkan inovasi demi tingkatkan produktivitas dan kesejahteran petani serta produk kita harus berdaya saing. Ini juga sesuai dengan visi Ditjen Hortikultura yang memang mengedepankan aspek budidaya ramah lingkungan,” ujarnya.

“Ini contoh kreativitas pola integrasi selama ini hanya dikenal mina-padi, sekarang sudah ada mina-cabai, mina-bamer dan lainnya. Tiap daerah punya kearifan lokal dan cara sendiri dalam berbudidaya bawang merah. Silakan saja petani berimprovisasi. BAMELE ini patut dicontoh sentra bawang merah lainny,” imbuh Suwandi.

Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Judi Ernanto yang turut mendampingi kunjungan Suwandi mengatakan, luas areal tanam bawang merah Kabupaten Nganjuk sekitar 14.000 hektare dengan produksi tahun lalu mencapai 152 ribu ton.

Nganjuk menjadi sentra bawang merah terbesar di Jawa Timur dan ketiga di Indonesia setelah Brebes dan Bima.

“BAMELE ini inspirasinya dari Pak Bupati sendiri yang menginginkan bawang merah Nganjuk diproduksi secara ramah lingkungan. Kita ingin produksi bawang merah Nganjuk bisa berkelanjutan dan bermutu. Sesuai arahan Bupati, kami akan replikasi dan kembangkan teknologi Bamele ini ke seluruh Nganjuk. Targetnya hingga 14 ribu hektar bisa dipenuhi,” tukasnya.