Meski Ngebut Penuhi Pesanan, Tetap Berangkat saat Ada Bencana

Bertugas sebagai anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu tak mematikan kreativitas Gunawan Wibisono. Di sela-sela tugas,  dia meluangkan waktu untuk membuat kerajinan suvenir berbahan kayu. Hasilnya, berbagai produk buatannya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Bertugas sebagai anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu tak mematikan kreativitas Gunawan Wibisono. Di sela-sela tugas,  dia meluangkan waktu untuk membuat kerajinan suvenir berbahan kayu. Hasilnya, berbagai produk buatannya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Beragam jenis suvenir berbahan kayu ditata rapi di atas meja lantai dua rumah di Jalan Wukir nomor 49A Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Ada pot bunga berbagai bentuk, asbak, hingga falle atau perangkap nyamuk dari kayu. Di ruangan  berukuran 3×4 meter itu juga dipenuhi tumpukan kayu yang menjadi bahan baku suvenir.

Pembuatan suvenir tersebut dikerjakan di rumah Gunawan Wibisono. Dia menyulap rumah milik Suhartono, partner kerjanya, menjadi bengkel produksi.  Saat ditemui Jawa Pos Radar Batu di rumah itu, dia tengah sibuk menyelesaikan pesanan suvenir yang harus dia tuntaskan sebelum libur Lebaran. ”Suvenir ini perlu penanganan khusus, karena ada proses pembakarannya juga,”  ujarnya memulai cerita.

Dia lantas membakar kayu dengan alat khusus. Semburan api yang mengenai kayu, lantas membentuk pola unik pada bagian uratnya. Ada bagian kayu yang tetap berwarna cokelat, ada yang menjadi kehitaman. ”Proses pembakaran ini untuk menciptakan sisi artistik kayu,” beber pria 23 tahun ini. Menurut dia, model suvenir semacam itulah yang sekarang sedang digemari.

”Ada banyak yang senang (model seperti ini, Red), mungkin jadi terlihat corak kayunya dan terkesan unik,” terangnya. Gunawan pun mengikuti tren yang terus berkembang dan menuruti kemauan konsumennya. Ini menjadi salah satu kunci, agar usahanya bisa berkembang.



Diakui Gunawan, usahanya tersebut tetap dianggap sebagai sampingan. Pekerjaan utamanya adalah anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Batu. Hal itu sudah dilakoninya sejak lulus SMK. ”Sudah tiga tahun saya jadi anggota BPBD Kota Batu,” ujar alumnus SMKN 1 Batu tersebut.

Di sela-sela tugasnya bekerja di penanggulangan bencana, Gunawan punya kesibukan lain. ”Dulu lebih pada besi, ya ikut ngelas membuat kanopi dan lainnya itu,” terang dia. Karena persaingan banyak dan orderan tidak terlalu sering, hal itu membuat dia tidak betah. Gunawan pun berpikir untuk membuat kerajinan kayu.

”Karena banyak limbah kayu, kan. Saya basic-nya memang senang kayu dan mengotak-atik sesuatu,” ujar putra pasangan Joni dan Yunita itu. Dari kayu tak terpakai yang dia temukan, lantas diotak-atik menjadi berbagai karya yang bernilai guna dan menarik. Setelah menemukan model suvenir, dia memutuskan membeli kayu dalam jumlah banyak, agar harganya agak miring. ”Saya beli kayu limbah dari Surabaya satu truk, tapi bingung mau saya gunakan apa kayu sebanyak ini,” ujar dia.

Kayu-kayu itu bekas packing dari pabrik-pabrik. Kayu tersebut biasanya tidak terpakai, sehingga dijual borongan dan murah. ”Saya beli seharga Rp 5 juta dulu itu,” imbuh Gunawan. Karena banyak bahan baku, dia mencari cara untuk mengolahnya menjadi karya.

”Karena ngetren suvenir kayu, saya cari-cari referensi di internet, terus langsung saya buat,” terang Gunawan. Karyanya itu, akhirnya menyebar dari mulut ke mulut dan banyak yang pesan. Karena kewalahan mengerjakan sendiri, dia mengajak rekan-rekannya. ”Rumah produksi ini milik Pak Suhartono, saya diminta buat usaha dan mengajak yang lainnya,” ungkap dia.

”Lalu, saya ajak teman-teman relawan bencana, mereka kan pekerja sosial, tidak semua punya penghasilan tetap. Jadi, saya ajak mereka,” sambung Gunawan. Relawan bencana dengan sukarela akan turun langsung saat ada bencana. Tanpa ada yang membayar. ”Ya, memang sejak awal mikir juga bagaimana membuat arek-arek ini biar dapat pemasukan, terus kami kerjakan bareng,” ungkap dia.

Ada tiga relawan bencana yang diajak Gunawan untuk membantu membuat suvenir. ”Kalau saya dengan Pak To (Suhartono, Red), jadi lima orang yang mengerjakan,” ungkapnya. Menjalani dua pekerjaan, tentunya tidak mudah. Namun, Gunawan punya prinsip, tugas sebagai anggota BPBD haruslah yang diutamakan. Pengalaman pernah meninggalkan produksi  ketika ada bencana pun kerap dia lakukan.

”Jadi, kadang pas sedang garap (mengerjakan, Red) suvenir, tiba-tiba ada longsor, ya sudah kami berangkat. Kadang tangan masih banyak lem, berangkat saja. Padahal, pesanan sudah mau dikirim,” ujar dia sambil tertawa. Baginya, hal itu tidak menjadi masalah. Tugasnya menjadi anggota BPBD juga tidak terganggu. ”Karena kami piket itu 24 jam, setelah itu libur 3 hari, piket lagi. Namun, saat libur harus tetap on-call,” ujarnya. Sehingga, saat ada bencana langsung turun.

Dengan jadwal kerja itu, Gunawan bisa mengisinya dengan membuat suvenir. Selama ini, karyanya pun cukup banyak diminati. Dalam sebulan, jumlah pesanan kira-kira mulai 500–1.000 buah. Dengan harga paling murah Rp 10 ribu–Rp 50 ribu. Melalui pemasaran online, produknya pun banyak dipesan warga Kalimantan dan daerah lain di Indonesia.

Pewarta : Aris Dwi
penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : c1
Foto : Aris Dwi