Merawat Demokrasi dengan Djagongan

Pasangan calon presiden yang akan maju sudah dipastikan, nomor urut juga sudah pula ditentukan, kontestasi dimulai secara resmi namun sebenarnya suhu politik sudah mulai menghangat sejak awal tahun lalu. Di tingkat elite maupun akar rumput kita sama-sama demam, terjangkit virus kontestasi Pilpres 2019. Namun sebelum benar-benar berkelidan dalam pusaran perdebatan dan bipolaritas dukungan ada baiknya kita merenungkan kembali beberapa hal berikut ini;

Pada bentuk praktisnya yang paling purba di Athena (460-360 SM), praktik demokrasi sesungguhnya tidak sekadar dimaksudkan untuk memilih pemimpin. Aktivitas politik utama dalam sistem ini adalah mengambil keputusan terkait dengan hajat hidup bersama seperti pengaturan persediaan makanan keuangan negara, bahkan keputusan militer seperti bersekutu atau berangkat perang.

Pada masa itu setiap warga Negara laki-laki memiliki hak politik yang sama, mereka berkumpul di tempat semacam stadion besar, beberapa kali dalam sebulan. Dalam rapat besar itu, seluruh warga yang hadir memiliki hak yang sama untuk berbicara mengungkapkan pendapat, berargumen, dan pada akhirnya menyetujui atau menolak draft keputusan yang diajukan lewat voting seluruh warga negara. Sejarah kemudian mengenal sistem politik tersebut sebagai demokrasi langsung (direct democracy)

Seiring zaman, populasi berkembang dan satuan-satuan Negara membesar dengan jumlah warga yang tidak lagi memungkinkan untuk berkumpul dalam satu waktu di satu tempat secara bersamaan. Demokrasi langsung beralih menjadi demokrasi perwakilan. Namun pada dasarnya pergeseran ini tidak hendak merubah daulat rakyat atas keputusan politik yang mempengaruhi kehidupan keseharian mereka.

Pelajaran penting Athena adalah kebebasan setiap warga-negara untuk menyampaikan pendapat dan turut ambil bagian dalam keputusan politik menjadi intisari demokrasi, dan saya kira di Indonesia kita mengalami inflasi dalam hal ini. Hampir setiap orang semenjak beberapa bulan terakhir, terutama di media sosial dan grup-grup W.A, berdiskusi dan berdebat tentang politik dengan seru bahkan menjurus pada polarisasi tegas yang mengarah pada konflik. Teman lama tak saling tegur-sapa, kolega melengos ketika berselisih jalan dan saudara absen pada acara keluarga hanya karena perbedaan pendapat dan pilihan calon presidennya. Semua biasanya di awali dari berseteru di dunia maya.



Pelajaran tak kalah penting dari praktik demokrasi Athena adalah bahwa konsekuensi dari bebas berbicara dan berpendapat adalah tentu saja bicara benar, dan prasyarat dari bicara benar tentu saja terlebih dahulu harus melalui proses berpikir benar berdasarkan informasi yang benar. Hal inilah yang seringkali terlewatkan dalam demokrasi kita dewasa ini.

Di era media sosial dan internet yang begitu massif seperti saat ini kita tidak pernah kekurangan informasi, sebaliknya setiap hari kita dibanjiri dengan berbagai macam berita dan informasi dalam berbagai bentuk dan rupa. Dampaknya adalah kita kemudian cenderung memilah informasi dengan kriteria kesesuaian dukungan politik jarang melakukan klarifikasi atau perbandingan dengan sumber lain.

Kecepatan arus informasi yang tidak diimbangi dengan keterampilan, ketelatenan dan kesabaran untuk memilah dan memilih informasi inilah yang mempercepat penyebaran hoax yang pada akhirnya memicu konflik. Gaya komunikasi media sosial yang bersifat perjumpaan tidak langsung, bahkan anonym, juga mendukung penggunaan bahasa sindiran, celaan dan ejekan tanpa rasa sungkan karena seringkali kita berpikir “Halah kan ndak ketemu langsung orangnya”.

Di masa hiruk-pikuk penuh salah paham inilah saya kemudian teringat betapa kita terlalu banyak mengganti silaturahim konvensional dengan teknologi. Jarang sekali terdengar ajakan Djagong ngalor-ngidul sambil menikmati kopi sebagai bentuk kearifan lokal untuk menyelesaikan masalah, perbedaan pendapat bahkan perseteruan antar sahabat.

Percayalah, bertemu muka dengan hati gembira, djagongan sambil memuji kopi Kabupaten Malang yang mulai mendunia atau didampingi kretek khas daerah kita tercinta yang sudah kondang se-Nusantara, suasana akan berbeda.

Jadi tunggu apalagi, mari menghidupkan kembali budaya djagongan sing penak, gayeng sambil mendiskusikan perbedaan dan persamaan kita, beda pilihan tetep seduluran. Seduluran saklawase.

Salam Malang Djagongan Penak
Penulis : Kresna Dewanata Phrosakh