Merajut Kembali Prestasi Sepak Bola di Kota Malang (2-habis)

Satu Kata, Segera KLB PSSI Kota Malang

MALANG KOTA – Pasca mundurnya Ketua Umum PSSI Kota Malang Gus Lukman Al Karim pada Desember 2016 lalu, sejumlah pemilik klub anggota Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah tak sabar untuk melakukan kongres luar biasa (KLB). Itu terungkap dalam forum diskusi bertajuk Merajut Kembali Prestasi Sepak Bola Kota Malang, di area parkir kantor Jawa Pos Radar Malang, Sabtu malam (7/1).

Sejumlah pemilik klub menegaskan, sejak 2014 lalu, prestasi sepak bola Kota Malang terjun bebas. Nyaris tidak ada prestasi yang membuat warga Kota Malang bangga. Tidak ada satu pun trofi yang menghiasi PSSI Kota Malang hampir di semua ajang mulai pekan olahraga pelajar daerah (popda), pekan olahraga provinsi (porprov), hingga Piala Suratin.

Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, di sejumlah event, Kota Malang selalu membawa pulang trofi. ”Keterpurukan ini terus terang kami sesalkan,” ujar Kristiya Yudha, pemilik Klub Kakimas, Dampit.

Menurut Yudha, prestasi klub itu seiring dengan manajerial di kepengurusan. Karena itu, dia menganggap bahwa ada yang bermasalah dalam kepengurusan PSSI selama ini sehingga prestasinya jeblok.

”Kami menginginkan harus diperbaiki di internal PSSI dahulu, satu-satunya pilihan ya KLB,” tegas mantan Wakil Manajer Arema era 1998–1999 itu.

Dia menyayangkan, dalam diskusi Sabtu malam, tidak ada satu pun perwakilan dari pengurus PSSI Kota Malang yang hadir. Padahal, panitia sudah mengundang Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Kota Malang Dr Nurcholis Sunuyeko. Bahkan, Nurcholis sempat menyatakan hadir. Namun, beberapa jam sebelum acara diskusi, Nurcholis mengaku sedang ada acara di Purwosari, Pasuruan.

”Ini acara penting. Seharusnya ada yang mewakili untuk membahas masa depan sepak bola di Kota Malang,” sesal Yudha.

Senada juga disampaikan Misianto, wakil dari Amarta FC. Dia sudah tidak sabar dengan kondisi sepak bola di Kota Malang saat ini. Karena itu, selain segera ada KLB untuk mengganti ketua umum PSSI, juga saat pemilihan dilakukan secara transparan. Artinya, pengurus klub yang menjadi anggota PSSI nantinya tahu seperti apa kapasitas calon ketua umumnya nanti.

”Agar kami mengetahui siapa yang benar-benar ingin memajukan sepak bola. Kalau bisa, Januari ini sudah ada KLB,” tandas Misianto.

Dalam diskusi itu, hadir sekitar 30 perwakilan klub anggota PSSI, pemilik sekolah sepak bola (SSB), juga dari KONI Kota Malang, serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Malang. Selain itu, juga ada pengamat sepak bola Yunan Saifullah.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Kota Malang Husnun N. Djuraid menyampaikan, pengurus PSSI nantinya harus membenahi administrasinya. Karena tertib administrasi, menjadi penilaian KONI untuk mencairkan anggaran.

”Anggaran PSSI itu lewat KONI dulu. Sehingga untuk pencairannya, segala administrasi di PSSI harus klir,” kata Husnun.

Pengamat sepak bola Yunan Saifullah menambahkan, KLB memang merupakan salah satu jalan untuk mengurai keterpurukan prestasi sepak bola di Kota Malang. Setelah ada KLB, baru pengurus bisa fokus membina, mulai dari tingkat usia dini hingga memutar roda kompetisi.

”Persatuan Olahraga/Persatuan Sepak Bola (PO/PS) menjadi bagian PSSI, sehingga aspirasinya harus diperhatikan untuk kebaikan bersama,” tukas dia.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono