Menyambung Hidup dengan Pompa Insulin di Perut

JawaPos.com – Sekilas, tak ada yang berbeda pada sosok Anita Permata Sari. Ibu dua anak kelahiran tahun 1984 ini bisa dibilang tampak normal seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Hal abnormal pada Anita baru ketahuan ketika perutnya diraba. Ada pompa insulin yang tertanam disana.

Sesuai namanya, pompa tersebut berfungsi untuk mengalirkan insulin ke dalam tubuh Anita yang sudah tidak bisa lagi memroduksi insulin. Ya, Anita adalah penderita diabetes tipe 1. Penyakit ini sudah menggerogotinya sejak dia berusia 13 tahun.

Diabetes tipe 1 adalah kondisi di mana organ pankreas seseorang tidak berfungsi dan tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Insulin berguna membantu tubuh membuka dinding-dinding sel untuk menyerap glukosa di dalam darah. Tanpa insulin, maka glukosa tak bisa masuk ke dalam sel tubuh. Artinya, orang tersebut harus disuntik insulin seumur hidupnya. Inilah yang dialami Anita.

“Saya kena umur 13 tahun. Saat itu gejalanya sering pipis, sering haus, sering lapar. Dulu tubuh saya kurus dan pakai baju apa saja bagus. Orang tua nggak menyangka saya ternyata punya diabetes,” papar Anita kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Anita baru mengetahui dirinya sudah terpapar diabetes ketika ia terkena tipes. “Waktu periksa darah, ternyata gula darah saya 400. Kaget kan. Lalu sejak itu saya mulai belajar suntik insulin,” jelasnya.

Proses suntik insulin dilakukannya selama empat tahun hingga usia 17. Di usia tersebut, Anita sudah mulai membiasakan diri tidak lagi menggunakan jarum suntik, tetapi dengan sebuah alat khusus yang ditempelkan ke bagian perutnya. Alat ini adalah pompa insulin. Anita tak mungkin bisa lepas dari pompa insulin karena tubuhnya memang tak bisa memproduksi insulin lagi.

“DM (Diabetes Melitus) 1 itu nggak bisa pakai obat. Untuk penegakan diagnosa DM1, di bawah angka 0,8 itu sudah positif DM1. Saya 0,0032. Sangat rendah sekali. Jadi harus pakai pompa insulin,” ujarnya.

Meski begitu, Anita tetap bisa beraktivitas normal. Tahun ini adalah tahun ke-25 ia hidup dengan penyakit diabetes. Diabetes tidak menghalangi Anita untuk berumah tangga. Ia bisa menikah, punya anak, dan sempat bekerja di perusahaan BUMN.

Anita mengatakan, terkena sebetulnya bukan hal yang mengherankan untuknya. Dia memiliki keluarga dengan riwayat diabetes. Ayahnya terkena diabetes, begitu juga ibu dan kakaknya.

Pergumulan Anita dengan diabetes ternyata tak cuma untuk dirinya saja. Setelah menikah, ternyata suaminya juga divonis menderita pre diabetes tipe 2. Yang lebih sedih, anak-anaknya juga sudah dinyatakan pre diabetes.

“Suami juga, anak-anak juga. Maka saya selalu memberlakukan No Sugar Diet di rumah. Aturan jajan sangat ketat sekali,” tegasnya.

 

Waspada Koma

 

Menurut Anita, DM 1 sangat dipengaruhi oleh hormon. Ketika Anita hamil, ia pun menjadi ekstra hati-hati dalam mengontrol dirinya.

“Hamil tentu membuat saya lebih protektif. Cek gula darah bisa berkali-kali. Sampai biru-biru tangan saya karena khawatir ada apa-apa sama bayi,” jelasnya.

Ketika menyusui, Anita menyarankan agar pasien diabetes jangan terlalu berlebihan memberikan ASI. Sebab hal itu akan menguras energi yang membuat seorang ibu bisa mengalami hipoglikemi atau keadaan di mana gula darah menjadi sangat anjlok.

“Kalau mau kasih ASI jangan terlalu ambisius kasih ASI. Jadi saya pernah kasih ASI lalu tidur, gula darah saya malah sangat drop di angka 30-an. Itu karena nutrisi saya ketarik banget semua untuk bayi. Saya sudah gemetar banget dan triknya setelah itu saya makan cokelat agar stabil,” katanya.

Setelah makan, Anita tentu tidak bisa diam saja. Ia harus berjalan-jalan kecil untuk menurunkan gula darahnya. Hal ini untuk menghindari DKA (Diabetes Ketoacidosis), kondisi di mana gula darah menjadi sangat tinggi dan bisa menyebabkan pasien diabetes koma.

“Kalau gula darahnya tinggi terus bisa koma. Maka manajemen gula darah harus bagus banget,” jelasnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani