Menteri Rini Pastikan Proyek Kereta Cepat Molor Hingga 2020

Menteri Rini Pastikan Proyek Kereta Cepat Molor Hingga 2020

Saat ini, pembangunan kontruksi yang sudah dimulai baru di wilayah Walini, Bandung Barat serta di wilayah Halim Perdana Kusumah saja. Menteri BUMN, Rini Soemarno mengatakan, wilayah Walini dan Halim Perdanakusuma tersebut termasuk dalam bagian titik strategis dari keseluruhan proses pembangunan proyek kereta cepat.

Pembangunan tunnel dilakukan lebih dulu lantaran proses konstruksinya membutuhkan waktu. Di titik lainnya juga sudah dimulai pengerjaan rel layang (elevated).

Menteri BUMN Rini Soemarno di NTT
(Hana Adi/RADAR MALANG ONLINE)

Proyek yang menelan biaya mencapai USD 6,07 miliar ini pun molor satu tahun atau 2020 dari target yang telah ditentukan saat digroundbreaking Presiden Jokowi dua tahun lalu yaitu 2019.

Meski molor dan menelan biaya jumbo, Menteri Rini mengklaim dengan adanya kereta cepat waktu tempuh Jakarta-Bandung sejauh 350 km per jam dapat ditempuh hanya dengan waktu 45 menit saja.

Selain itu, Rini mengatakan adanya kereta cepat ini mampu memberikan pilihan moda transportasi masyarakat dengan menghemat waktu tempuh, efisiensi serta memberikan transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Kehadiran kereta cepat bisa menjadi upaya menumbuhkan ekonomi di sepanjang koridor Jakarta Bandung melalui penciptaan sentra ekonomi baru baik di sektor usaha kecil menengah maupun ekonomi masyarakat sekitar,” kata Menteri Rini Soemarno saat blusukan ke proyek kereta cepat di Walini, Jawa Barat, Rabu (21/3).

Diakui Rini, jalur kereta cepat Jakarta-Bandung dipilih untuk dilaksanakan terlebih dahulu lantaran dinilai paling siap dari sisi lahan, sisi bisnis, dan kelayakan secara keseluruhan.

Pembangunan kereta api cepat ini juga diklaim dapat membawa banyak manfaat, seperti penciptaan lapangan. Dimana, pemerintah juga sudah mewajibkan untuk memaksimalkan local content mulai dari tenaga kerja, komponen konstruksi hingga barang dan jasa. Di sisi lain, kehadiran kereta cepat Jakarta Bandung juga dapat meningkatkan penerimaan pajak negara.

“Yang tak kalah penting juga, proyek dengan investasi besar ini sama sekali tidak menggunakan APBN. Tapi lewat pinjaman B to B dengan bunga rendah,” tambah Rini.


(uji/JPC)