Menteri Pertanian Kepincut Jagung Ketan

Selama ini, riset dosen dan mahasiswa di bidang pertanian ditengarai banyak yang ngendon. Ini karena hanya sedikit mahasiswa dan dosen yang mau kembali ke dunia pertanian. Agar hal tersebut tidak terus-menerus terjadi, akademisi tak boleh malu terjun ke pertanian.

MALANG KOTASelama ini, riset dosen dan mahasiswa di bidang pertanian ditengarai banyak yang ngendon. Ini karena hanya sedikit mahasiswa dan dosen yang mau kembali ke dunia pertanian. Agar hal tersebut tidak terus-menerus terjadi, akademisi tak boleh malu terjun ke pertanian.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian Dr Ir H Andi Amran Sulaiman MP dalam kuliah tamu di Universitas Brawijaya (UB) kemarin (25/5). ”Kalau pertanian mau modern, akademisi harus satu jalur. Kalau bisa, ikut memotivasi petani lewat riset,” ucap pria asli Bone, Sulawesi Selatan, itu.

Menteri Pertanian ke-27 ini sengaja membuka rahasia di depan audiens. Menurutnya, penghambat modernisasi pertanian karena sinergi antara petani dan akademis belum optimal. Andi merasa sedikit terganggu mengetahui beberapa perguruan tinggi sering kali tidak membagikan hasil riset. Padahal, riset bisa membantu Kementan (Kementerian Pertanian) menggandeng stakeholders lain.Bapak-Ibu dosen, kalau bisa jangan pelit ilmu, jangan pelit riset. Hasil riset itu nanti masuk perutnya rakyat,” ujar dia.

Dia memang mengakui menjadi peneliti itu susah. Dibutuhkan waktu dan dana yang banyak, sehingga sering kali peneliti enggan memasarkan hasil risetnya. Namun, untuk mengatasi hal tersebut, Kementan sudah menyiapkan e-catalog bagi peneliti untuk siap pasarkan hasil riset. ”Misalnya penelitian jagung ketan. Saya baru tahu UB bisa hasilkan itu dari lembaga mereka (Maize Research Center),” kata Amran.

Tidak butuh waktu lama baginya meneken kontrak dengan membeli bibit jagung ketan untuk lahan seluas 100 hektare. Kalau sukses, dia akan menambah membeli bibit untuk 200 hektare hingga 10 ribu hektare. ”Pokoknya, kalau mau masuk revolusi industri, akademi wajib lapor riset ke Kementan,” tegasnya.

Sementara itu, peneliti jagung ketan Dr Ir Arifin Noor S. MSC membenarkan jika hasil penelitiannya dilirik Kementan. Penawaran tersebut terjadi tiba-tiba selama pameran produksi pertanian berlangsung di tempat yang sama. ”Tiba-tiba ditawar, karena Pak Menteri tertarik waktu dipamerkan,” ungkap Arifin.

Dia tidak mengelak jika Andi Amran siap mengambil bibit untuk tanah seluas 100 hektare. Tetapi, dia enggan menyebutkan nilai tender Kementan. Meski demikian, Arifin sempat merinci harga dari benih jagung ungu sebesar Rp 10 ribu per kg. Dalam satu hektare, benih yang digunakan bisa mencapai 7 ton. Artinya, jika Arifin mendapat kontrak untuk 100 hektare, total nilai tender tersebut mencapai Rp 7 miliar.

Pewarta: Es
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono