Menjelajah Turki: Tujuh Kota, 2.000 Kilometer (3): Ada Resep Jitu Pengusir Laba-Laba di Masjid Biru

Kurniawan Muhammad berada di depan Blue Mosque

Dari Istana Top Kapi, masih di Istanbul, kami mengunjungi sebuah masjid yang dibangun oleh sultan yang naik takhta ketika masih sangat muda, dan mati dalam usia yang juga masih muda. Apa istimewanya masjid ini?

Interior Blue Mosque yang sangat indah dan megah

Para turis menyebut masjid ini: Blue Mosque. Atau ”Masjid Biru”. Dari Istana Top Kapi menuju ke Masjid Biru cukup berjalan kaki. Hanya beberapa ratus meter.

Dari jauh, kemegahan Masjid Biru sudah kelihatan. Inilah masjid terbesar, dari sekitar 85 ribu masjid yang ada di Turki. Dan ini yang menjadi salah satu ikon Turki ketika menggambarkan Istanbul.

Di Masjid Biru kami salat Dhuhur. Ketika mengambil air wudu, airnya terasa dingin menusuk tulang.

Rasa takjub menyeruak di benak kami, begitu memasuki bagian demi bagian di dalam masjid. Benar-benar megah. Suasana interiornya sangat mengagumkan. Ada keramik berwarna biru, hijau, ungu, dan putih.

Ornamen bunga-bungaan dan tanaman bersulur yang ada di dalam masjid tampak sangat indah, dan memendarkan warna biru saat tertimpa cahaya matahari yang masuk lewat jendela kaca patri. ”Wow… ini barangkali yang membuat masjid ini dijuluki Masjid Biru,” kata saya dalam hati.

Masjid Biru adalah salah satu bukti kedigdayaan Dinasti Usmaniyah (Ottoman). Inilah masjid yang umurnya 400-an tahun (selesai dibangun pada 1616). Tapi kebesarannya, kekokohan konstruksinya, kemegahannya, keindahan interiornya, sulit ditandingi meski di era saat ini.

Di balik kemegahan Masjid Biru ini, ada beberapa kisah menarik. Pertama, masjid ini dibangun atas inisiatif salah satu sultan dari Dinasti Usmaniyah yang naik takhta pada usia sangat belia. Dia adalah Sultan Ahmed I yang naik tahta pada usia 13 tahun pada 1603.

Banyak sumber menyebutkan bahwa sosok Sultan Ahmed I punya kecerdasan yang istimewa. Dia menguasai beberapa bahasa. Cakap bermain pedang. Saat dia memimpin, kesultanan Usmaniyah sedang dilanda krisis. Penyebabnya karena di masa itu Kesultanan Usmaniyah terlibat peperangan di daratan Eropa dan sibuk menghadapi pemberontakan di dalam negeri. Meski demikian, pada 1609, Ahmed I berinisiatif untuk membangun sebuah masjid. Tak tanggung-tanggung, saat itu Ahmed memerintahkan agar membangun masjid yang besar dan megah.

Di sinilah sisi menarik lainnya dari Masjid Biru. Saat itu, untuk mengukur kemegahan dan kebesaran sebuah bangunan tempat ibadah, ukurannya adalah Hagia Sophia. Ini adalah sebuah gereja megah dan besar yang dibangun oleh Kaisar Byzantine yaitu Constantinople pada tahun 1453. Ketika Byzantine ditaklukkan Usmaniyah, maka Hagia Sophia pun dialihfungsikan menjadi masjid.

Nah, ketika Ahmed I memerintahkan kepada Sedefkar Mehmet Aga (arsitek terkenal pada saat itu) untuk membangun sebuah masjid yang besar dan megah, masjid itu haruslah lebih besar dan lebih megah ketimbang Hagia Sophia. Karena yang dijadikan patokan atau perbandingan adalah Hagia Sophia, maka lokasi Masjid Biru pun berada satu blok dengan Hagia Sophia.

Untuk membangun masjid dengan permintaan khusus dari sultan pada saat itu, tidaklah mudah. Karena itu, butuh waktu sekitar 7 tahun untuk membangun Masjid Biru. Setelah jadi, Masjid Biru benar-benar megah dan besar, seperti yang diharapkan Ahmed I. Masjid Biru punya enam menara. Bentuk bangunannya lebih menyerupai kubus.

Spot penting dalam Masjid Biru ini yang menakjubkan bagi saya adalah mihrabnya yang terbuat dari marmer, yang dipahat begitu indahnya dan rapi. Masjid ini juga didesain ketika dalam kondisi penuh jamaah, para jamaah tetap dapat melihat dan mendengar suara imam.

Berada di dalam masjid ini, kami bisa merasakan bahwa sang arsitek benar-benar detail memikirkan aspek pencahayaannya. Ada pilar-pilar marmer, dan ratusan jendela kaca patri dengan berbagai desain. Dari jendela-jendela kaca itulah, cahaya dari luar bisa masuk. Selain itu, untuk mengimbangi cahaya dari luar, di dalam masjid dipasang chandeliers (lampu gantung). Dan menariknya, di dalam chandeliers itu diletakkan telur burung unta yang fungsinya untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ.

Telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang? Saya pun baru tahu saat itu. Dan memang, sejauh saya amati, saya tidak menjumpai ada sarang laba-laba di bagian atap atau dinding, selama berjalan-jalan di dalam Masjid Biru itu.

Dari sini, saya semakin kagum dengan arsitek Masjid Biru yang begitu detailnya membuat perencanaan dan desain, hingga masalah sarang laba-laba pun juga dipikirkan. Dan pada saat itu, sudah berhasil menemukan resep jitu mengusir sarang laba-laba. Yakni dengan telur burung unta. Bisa jadi, di dalam telur burung unta memang mengandung semacam zat yang kandungannya tidak disukai laba-laba.

Sayangnya, Ahmed I tak lama menikmati Masjid Biru. Dia meninggal pada 1617, setahun setelah Masjid Biru kelar dibangun. Ahmed wafat pada usia masih sangat muda: 27 tahun. Meski berumur singkat, Ahmed I telah berhasil mewariskan sebuah bangunan yang membuat bangga umat Islam.

Sampai saat ini, Masjid Biru masih yang terbesar di Turki. Masjid tersebut juga dipergunakan Umat Islam untuk beribadah sehari-hari, Salat Jumat, dan Salat Id. Dan bisa menampung hingga 10 ribu jamaah. Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Biru juga menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Istanbul. Sedikitnya 30 ribu turis mengunjungi masjid itu selama setahun.

Dari Masjid Biru, sebenarnya kami mengunjungi beberapa spot lainnya yang lokasinya berdekatan. Yakni Hippodrome (lokasi bekas arena pacuan kereta di zaman Romawi), Serpentine Column (tiang berbentuk ular), dan Fountain of Wilhelm II (air mancur yang dibikin untuk menyambut kedatangan Kaisar Jerman Wilhelm II ke Istanbul pada 1898). Tapi, spot-spot itu kurang berkesan bagi saya. Selain kurang menarik, Hippodrome misalnya, kami hanya mendapatkan ceritanya saja. Sementara sisa-sisa bentuk bangunannya sudah tidak ada. (bersambung)