Menjelajah Turki; Tujuh Kota, 2.000 Kilometer (2), Istana Top Kapi, Master Piece-nya Dinasti Usmaniyah

Ada sedikitnya empat objek yang saya kunjungi selama berada di Kota Istanbul. Yang paling berkesan adalah Istana Top Kapi. Mengapa? Berikut bagian kedua catatan Kurniawan Muhammad.
+++++++++
Sejumlah objek wisata yang sering ditawarkan oleh tour and travel di Istanbul, kebanyakan berada di kawasan yang saling berdekatan. Cukup dengan berjalan kaki untuk menjangkau antara objek yang satu dengan lainnya. Di antaranya: Istana Top Kapi, Blue Mosque (Masjid Biru), Hagia Sophia dan Hippodrome.
Dari keempat tempat itu, menurut saya yang paling berkesan: Istana Top Kapi.

Mengapa Istana Top Kapi? Pertama, karena istana ini sarat dengan nilai sejarah. Istananya sendiri, penuh dengan cerita. Ini adalah istana yang menjadi saksi kejayaan Dinasti Usmaniyah (Ottoman), yang berkuasa sejak 1299–1923.

Top Kapi berdiri di atas lahan sekitar 700 ribu meter persegi. Atau 70 hektare. Istana ini dibangun oleh Sultan ke-7 Dinasti Usmaniyah, Sultan Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II, setelah berhasil menguasai Konstantinopel.

Begitu Konstantinopel berhasil dikuasai, Al Fatih memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan Dinasti Usmaniyah yang semula di Bursa, dipindah ke Konstantinopel. Namanya langsung diganti, dari Konstantinopel menjadi Islambul yang artinya negeri Islam. Tapi kemudian berubah menjadi Istanbul. Sampai sekarang.

Saat itulah, Al Fatih memutuskan untuk membangun istana. Pembangunan Istana Top Kapi dimulai tahun 1459 M. ”Ketika itu, di Istanbul sudah berdiri istana peninggalan Romawi yang dibangun sejak tahun 360 M. Yakni Hagia Sophia. Sultan Al Fatih minta agar istananya yang dibangun harus lebih besar dan lebih megah dari Hagia Sophia,” kata Ali Ekinci, tour guide yang mendampingi rombongan kami.



Dan setelah jadi, Istana Top Kapi benar-benar megah dan luas. Posisinya sangat elok. Yakni terletak di pinggir Pantai Selat Bosphorus. Meski dibangun sejak 558 tahun yang lalu, tapi kemegahannya dan keindahan arsitekturnya sampai sekarang masih diakui keunggulannya.

Alasan kedua mengapa Istana Top Kapi layak dikunjungi, karena di dalam istana tersebut banyak disimpan benda-benda peninggalan para nabi dan rasul serta para sahabat nabi.

Ada jubah Nabi Muhammad SAW yang disimpan rapi di dalam kotak emas. Ada bekas jejak kaki Nabi Muhammad SAW. Bahkan, potongan jenggot Nabi Muhammad SAW juga disimpan di sana.

Manuskrip Alquran tertua di dunia, pedang Nabi Muhammad SAW, jubah milik Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, bahkan tongkat Nabi Musa AS juga disimpan sangat rapi di istana tersebut. Benda-benda lain di antaranya ada mangkuk Nabi Ibrahim AS, pedang Nabi Daud AS, dan serban Nabi Yusuf AS.

Saya agak tercengang ketika memandang tongkat Nabi Musa. Ternyata tidak terlalu panjang. Mungkin hanya satu meteran lebih sedikit. Bentuknya tidak seperti tongkat kebanyakan. Tongkat itu berwarna cokelat kehitaman. Terbuat dari cabang pohon, lurus dengan dua cabang di bagian atas.

Yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati, kok bisa begitu rapinya tersimpan tongkat Nabi Musa ya? Siapa yang menyimpan dulunya? Dan bagaimana tongkat itu bisa utuh sampai sekarang? Padahal, Nabi Musa hidup ribuan tahun lalu. Dari sejumlah versi sejarah, Nabi Musa diperkirakan hidup pada tahun 1500-an hingga 1400-an SM (sebelum Masehi). Berarti tongkat tersebut berasal dari masa itu. Dan sampai sekarang masih bisa disaksikan bentuk fisiknya.

Beberapa pedang milik para sahabat Nabi Muhammad SAW juga ada di sana. Mulai dari pedang Sayyidina Umar bin Khattab, Abu Bakar, Usman bin Affan, pedang milik Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Amr bin Yasir, hingga Khalid bin Walid. Dari ukurannya, rata-rata cukup besar gagangnya dan panjang pedangnya. Saya membayangkan, betapa tinggi-besar postur tubuh para sahabat nabi itu.

Dengan adanya benda-benda bersejarah itu membuat keberadaan Istana Top Kapi menjadi sangat bernilai. Inilah master piece-nya peninggalan Dinasti Usmaniyah yang menurut saya tiada taranya di dunia.

Bagaimana benda-benda bersejarah itu bisa dikumpulkan di satu tempat, dan disimpan di dalam Istana Top
Kapi? Dari sejumlah sumber menyebutkan, bahwa benda-benda bersejarah itu mulai dikumpulkan ketika

Dinasti Usmaniyah mengalami masa kejayaan di era pemerintahan Sultan Sulaiman I (1520– 1526). Pada saat itulah, terjadi ekspansi kekuasaan Dinasti Usmaniyah secara besar-besaran. Hampir seluruh jazirah Arab berhasil dikuasai. Seluruh Afrika Utara, Mesir, Hijaz (sekarang Arab Saudi), Irak, Armenia, Asia Kecil, Krimea, Balkan, Yunani, Bulgaria, Bosnia, Hongaria, dan Rumania. Bisa jadi, pada saat itu, sambil melakukan ekspansi, juga mengumpulkan benda-benda bernilai sejarah dari zaman nabi dan rasul yang keberadaannya tersebar di daerah-daerah yang dikuasai itu.

Tradisi mengumpulkan benda-benda bersejarah ternyata diteruskan hingga sultan-sultan Dinasti Usmaniyah berikutnya. Salah satunya yang paling getol adalah Sultan Ahmed I yang berkuasa dari 1603–1617. Di antara benda-benda bersejarah yang dia kumpulkan dan disimpan di Istana Top Kapi adalah talang emas Kakbah yang dibuat tahun 1612. Juga ada kunci Kakbah.

”Benda-benda peninggalan nabi dan para sahabat nabi saat itu cepat-cepat dikuasai dan dibawa ke sini (Turki) karena pada saat itu ada kekhawatiran akan dibawa dan dihancurkan oleh negara-negara di Eropa,” cerita Ali Ekinci.

Berkeliling ke Istana Top Kapi, bagi saya yang paling menarik ketika berada di tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, peninggalan para nabi dan rasul serta para sahabat nabi itu. Sayangnya, selama melihat-lihat benda-benda bersejarah tersebut, penjagaan sangat ketat. Petugas yang berjaga di sana sangat ketat mengawasi para pengunjung. Begitu ada yang mau ambil gambar, langsung dilarang. Memang, tidak boleh ada yang memotret benda-benda bersejarah itu. Meski demikian, saya sempat mencuri kesempatan memotret beberapa di antara benda-benda bersejarah tersebut. (bersambung)