Menjelajah Jejak Kolonial di Lawang (2)

Wisma Argosonyo Jadi Persinggahan Belanda sejak 1908

Hari pertama menelusuri jejak kolonial di Lawang, kemarin (25/9) tim jelajah dari Jawa Pos Radar Malang singgah di Wisma Argosonyo, Dusun Krajan, Desa Ketindan. Rupanya, di rumah tua itu menyimpan banyak sejarah. Apa saja?

SALAH satu rumah di Dusun Krajan, Desa Ketindan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, itu masih terawat dengan baik. H. Soepri Hadiono, pemilik rumah tersebut, rutin merawatnya. Tampak beberapa barang koleksinya terpajang. Ada mesin ketik, radio kuno, serta meja dan kursi berbahan kayu yang masih kokoh. Nuansa kolonial terasa di kediaman di lahan seluas 2.950 meter persegi itu.

”Biasanya kalau akhir pekan, keluarga besar saya menginap di sini,” kata Soepri saat ditemui beberapa waktu lalu.

Camat Lawang periode 2010–2013 itu lantas berkisah tentang perjalanannya memiliki rumah tersebut. Dia mulai menempati rumah itu pada 1994 silam. ”Rumah ini saya beli dari Pak Wujud, mantan pejuang yang juga pahlawan,” kata dia.

Pria yang memiliki 8 cucu itu enggan menyebut nominal pembelian rumah tersebut. Dari informasi yang dia dapat, pemilik rumah sebelumnya mendapatkannya dari hibah pemerintah pusat. Dia mengajukan permohonan khusus dan dikabulkan pemerintah pusat karena dianggap mempunyai sumbangsih terhadap kemerdekaan RI.

”Saya kurang tahu beliau dari angkatan apa. Yang jelas, katanya beliau juga salah satu pahlawan,” sambung Soepri.

Hampir seluruh bagian rumah tersebut tidak mengalami perubahan. Di bagian depan, ada dua kamar utama yang memiliki luas 7×6 meter. Diduga keduanya adalah kamar dari tuan rumah di sana.

Di belakang rumah, ada lima kamar kecil berukuran sekitar 4,5×3,5 meter. Kamar tersebut diduga menjadi kamar pembantu. Di sebelah lima kamar berukuran sedang itu tampak sebuah kolam ikan. Dari dokumentasi foto yang dimiliki H. Soepri Hadiono diketahui jika lokasi itu dulunya adalah kolam renang. ”Saya menemukan beberapa foto lama ini waktu membenahi asbes di rumah ini,” tambah dia.

Di salah satu foto yang dia temukan, tampak pula orang berwajah asing yang diduga berasal dari Belanda sedang berpose di depan rumah tersebut. Merekalah yang diduga menjadi pemilik awal rumah tersebut. Selain foto, H. Soepri juga menemukan salah satu petunjuk di bagian bawah ubin. Di sana ada tulisan tahun pembangunan kediaman tersebut. Yakni, tahun 1908. ”Ya, ini jadi salah satu bukti bahwa rumah saya sudah dibangun sejak 1908,” kata dia.

Dari penelusuran Jawa Pos Radar Malang, rumah milik H. Soepri itu bukan satu-satunya rumah kuno zaman kolonial Belanda yang tersisa di Lawang. Di Dusun Krajan, Desa Ketindan, ini juga tampak beberapa rumah berarsitektur kuno. Terlihat dari tembok rumah yang lebih tebal. Juga terlihat dari desain jendela yang umumnya berada di bagian atas. Begitu pula dengan bagian kaca jendela yang lebih tebal dan memiliki warna mencolok.

Bekas rumah-rumah kuno zaman kolonial Belanda juga terlihat di Jalan Argopuro dan Jalan Tawangargo. Tarmudji, penggagas Festival Lawang Kota Tua, menyebutkan ratusan bangunan kuno di Kecamatan Lawang. ”Kalau dikira-kira ya ada 300-an bangunan. Baik yang masih berdiri kokoh maupun yang tinggal fondasi saja,” kata dia.

Pewarta: Bayu Mulya Putra
Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Mahmudan
Fotografer: Bayu Eka Novanta