Menilik Penggunaan Bahan Anorganik di Lahan Pertanian

Menilik Penggunaan Bahan Anorganik di Lahan Pertanian

Imbasnya, secara perlahan kualitas tanah pertanian terus menurun dan mengancam keberadaan lahan pertanian. Untuk itu, perlu adanya perubahan pada kultur sistem pertanian dengan penggunaan bahan organik. 

Demikian seperti disampaikan calon guru besar Universitas Sebelas Maret (UNS) ke-18, Prof. Dr. Ir. Supriyadi saat jumpa pers, Senin (2/4).

Prof. Dr. Ir. Supriyadi
(Ari Purnomo/JawaPos.com)

Untuk itu, Supriyadi pun mendorong kepada petani di Indonesia untuk kembali pada pengelolaan dengan sistem pertanian yang lama atau menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan atau organik.

“Sampai saat ini pertanian masih mengedepankan pada kuantitas produksi, yang menyebabkan tekanan dan eksploitasi sumber daya tanah secara berlebihan,” ungkapnya. 



Dengan sistem pengelolaan seperti ini, Supriyadi melanjutkan, secara perlahan akan memacu terjadinya produksi biomasa. Selain itu juga akan mengakibatkan terjadinya degradasi lahan.

Inilah yang akhirnya berdampak pada kualitas lingkungan secara global. Menurutnya, penggunaan bahan agrokimia berupa pupuk anorganik dan pestisida yang melebihi ambang batas membuat kesuburan tanah dan ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah. 

“Lahan sawah yang dipupuk NPK secara berlebih akan memacu proses dekomposisi bahan organik tanah, akibatnya sebagian besar lahan sawah intensif kandungan bahan organiknya kurang dari dua persen,” katanya.

Penggunaan bahan-bahan tersebut dapat mengusik proses biologi tanah yang semula berjalan secara alamiah. Akibat yang akan terjadi adalah terusiknya proses-proses biologi tanah. Kondisi ini jelas akan menurunkan atau bahkan menghilangkan keanekaragaman hayati dalam tanah. 

Guna mengantisipasi terjadinya penurunan kualitas tanah secara terus menerus, Supriyadi menyarankan perlunya pemahaman kepada para petani untuk menerapkan proses bertani secara organik.

Selama ini, banyak petani yang masih minim pemahaman terkait sistem tersebut. “Caranya dengan melibatkan pemerintah dalam sosialisasi,” ucapnya.

Permasalahan inilah yang diangkat Supriyadi untuk pidato pengukuhan sebagai guru besar UNS yang akan dilakukan, Selasa (3/4).


(apl/JPC)