Mengunjungi Masjid ”Tiban” Songak, Masjid Pertama di Pulau Lombok

Wartawan Radar Malang Abdul Muntholib (kiri) bersama takmir Masjid Songak, Lombok Timur.

Usia Bangunan 700 Tahun, Empat Tiang Kayu Masih Utuh

Di sela-sela menyerahkan bantuan untuk korban bencana gempa di Pulau Lombok, Jawa Pos Radar Malang menyempatkan diri untuk mendatangi masjid tertua di sana. Namanya, Masjid Tua Songak. Orang Lombok menyebut dengan Masjid Bengan yang artinya tiban, yakni tiba-tiba berdiri. Berikut kisahnya?

Butuh waktu sekitar dua jam dengan mengendarai motor untuk menuju Masjid Tua Songak dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lokasinya berada di daerah perbukitan Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Kawasan ini salah satu yang tidak terdampak gempa. Sebab, pusat gempa berada di Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya sekitar 200 kilometer.

Masjid ini diklaim Pemkab Lombok Timur sebagai masjid pertama yang ada di Lombok. Dasarnya, dari hasil pelacakan sejarawan, masjid ini dibangun pada tahun 1.300-an. Saat itu, agama di Lombok baru ada dua: Hindu dan Buddha. Nah, dari catatan sejarah, belum ada di seantero Lombok ada masjid yang setua ini. Karena itu, Pemkab Lombok Timur telah menetapkan masjid ini sebagai salah satu situs cagar budaya yang dilindungi.

Bangunan ini disebut masjid ”tiban” karena masyarakat dengan didukung data sejarah meyakini, masjid tersebut terbangun dari hasil semedi oleh sembilan ulama yang diyakini sebagai waliyullah. Belakangan, kesembilan ulama itu disebut dengan nama Ki Sanga Pati. Jadi, proses berdirinya masjid ini tidak seperti membangun gedung pada umumnya. Tidak ada tukang atau arsitek maupun peralatan seperti palu. Tapi, hanya menggunakan kekuatan batin.

Diceritakan, saat sembilan ulama babat alas di desa tersebut, mereka melakukan ritual khusus memohon kepada Allah. Mereka ingin di daerah ini jadi pusat tersebarnya agama Islam di Lombok. So, sembilan ulama dengan kekuatan batinnya berdoa hingga berdirilah masjid ini. Bahkan, dikabarkan, secara bersamaan, ada tujuh masjid tiban serupa yang tersebar di Lombok. ”Maka, karena kisah itu, warga Lombok menyebut ini masjid bengan atau tiban,” ungkap Murdyah SAg, takmir Masjid Songak.

Yang unik dari masjid ini, sejak berdiri ratusan tahun silam, bentuk bangunan tidak pernah diubah. Bangunan utama masjid berada di gundukan setinggi 2 meter. Luasnya 9×9 meter. Sedangkan teras masjid berada di lokasi dataran rendah. Jadi, dari teras masjid ke ruang utama harus menggunakan tangga. Atap masjid pun masih menggunakan ilalang. Meski bahannya pernah diganti, tapi tetap menggunakan ilalang. Tidak boleh diganti pakai genteng maupun bahan lain. Bahkan, kayu tiang penyangga dari kayu jati, sejak dibangun ratusan tahun lalu, hingga kini masih utuh. Tidak pernah diganti. Jawa Pos Radar Malang mencoba untuk mengamati dan memegang tiang kayu jati itu. Memang tidak terlihat ada yang lapuk sama sekali. ”Kami meyakini, inilah masjid pusaka yang dititipkan Allah kepada kami, warga Lombok,” terang Murdyah.

Selain sebagai pusat pengembangan Islam, masjid ini ternyata juga pernah jadi benteng pertahanan dari musuh. Data ini dikuatkan dengan adanya tradisi mangkat. Yakni, ritual yang dilakukan warga akan berangkat perang harus berkumpul di masjid ini. Lalu, pemimpin umat dari Datu Sakra (nama suku di Lombok Timur) memimpin doa dengan membakar kemenyan. Sang pemimpin duduk bersimpuh menghadap mimbar di dalam masjid, kemudian mengucapkan doa yang diikuti masyarakat.

Usai prosesi ritual, sang imam mengambil pelepah enau kecil untuk dikalungkan ke leher jamaah. Lalu, semua keliling memutari masjid sebanyak tujuh kali. Juga dengan membaca doa-doa tertentu. Mirip seperti sedang tawaf di Kakbah. Warga Lombok meyakini, jika sudah menggelar tradisi mangkat, ketika bekerja maupun sekolah di luar kota akan sukses. Sebaliknya, jika tidak mau ikut tradisi ini, pilihannya ada dua: Harus berani bertarung dengan pemimpin suku tertinggi di Lombok Timur atau gagal ketika meraih cita-citanya. Jika berperang maka akan terbunuh, jika sekolah maupun bekerja tidak akan sukses. Dan, tradisi mangkat ini masih bertahan hingga kini.

Dalam kisah lain disebutkan alasan kenapa Ki Sanga Pati memilih tinggal di Desa Songak. Yakni di zaman itu, kawasan tersebut tidak pernah ada hujan selama tujuh tahun. Tepatnya sejak meletusnya Gunung Rinjani sekitar tahun 1258. Nah, Ki Sanga Pati ini lalu bertapa di puncak Gunung Rinjani. Singkat kata, dari hasil bertapa, Ki Sanga Pati diperintah oleh kekuatan gaib untuk pergi ke Pantai Rambang, Lombok Timur. Di pantai yang tidak jauh dari Desa Songak itulah, ada perintah lagi untuk membawa kulit sapi ke pinggir pantai. Lalu, kulit sapi itu dibentangkan di pantai sehingga dalam waktu tidak lama, kawasan tersebut turun hujan untuk kali pertama.

Dari situlah, nama Ki Sanga Pati kian kondang. Masyarakat berbondong-bondong untuk belajar ilmu hingga ikut masuk Islam. Lalu, Ki Sanga Pati menjadikan Desa Songak sebagai pusat penyebaran Islam hingga kini warga Pulau Lombok hampir 90 persen beragama Islam. Makam Ki Sanga Pati saat ini berada sekitar 1 kilometer dari kompleks masjid. Makamnya berbaur dengan masyarakat umum. ”Kawasan ini tinggal dikelola dengan baik sehingga bisa menjadi jujukan wisata religi dan sejarah,” imbuh Mastur Sonsaka, remaja Masjid Songak.

Kini, di kompleks makam telah berdiri bangunan rumah warga yang sangat padat. Kanan kiri, depan, dan belakang masjid sudah padat penduduk. Sulit bagi pengelola untuk melakukan pengembangan. Bahkan, karena kurang dikelola dengan baik, masih belum banyak wisatawan sejarah yang datang. Kalaupun ada yang berkunjung ke masjid ini hanya peneliti dari beragam kampus. Dari daftar tamu yang sempat dibuka, selama Agustus ini, tercatat hanya Jawa Pos Radar Malang yang hadir. ”Jadi, dari dulu luas masjid ya hanya segini. Kondisinya ya tetap begini,” ungkap Mastur.

Mastur menambahkan, memang di masjid ini sempat ada renovasi. Tembok di masjid utama sudah pernah dibangun sekitar tahun 1990-an. Karena dulu tembok masjid berbahan kayu, sekarang diganti bata yang tanpa ditutupi semen. Juga ada tambahan lantai porselen. ”Tapi, untuk bentuknya masih orisinal. Tidak ada yang berani mengubahnya,” terang dia. (*/c2)