Mengungkap Order Fiktif GrabFood di Malang, Sebuah Ketidakjujuran Yang Menguntungkan

Telkomsel juga Berikan Paket Data Murah ke Pengemudi Grab - JPNN.COM

KOTA MALANG – Order fiktif nyatanya bisa jadi bisnis yang menguntungkan antara 3 belah pihak. Sejumlah driver mengakui bahwa praktik order fiktif kerap dengan sengaja dilakukan pihak resto. Pihak Grab pun menurut mereka tidak dirugikan karena resto tetap membayar pajak dan traffict penjualan pun tinggi. Sedangkan di posisi driver hal ini menjadi dilematis.

Salah satu driver ojol berinisial SA mengatakan order fiktif sering dilakukan oleh resto yang disebut Resto ‘abal-abal’. Pada kasus Bebek Ciphuk, Rabu (31/7) owner dirugikan karena transaksi palsu yang dilakukan oknum dengan memanfaatkan warungnya yang belum ditutup secara online (di aplikasi). Sedangkan pada umumnya menurut SA, praktik oknum itu sudah sering terjadi namun pelakunya adalah owner dari resto itu sendiri.

“Kebetulan Bebek Ciphuk kan korban karena restonya dibuat transaksi order fiktif dan padahal dia udah nggak buka ya. Orang lain lah intinya atau penjahat yang melakukan. Padahal praktik kayak gitu sebenarnya sudah banyak dilakukan Resto ‘abal-abal’. Tapi kan kalau Resto ‘abal-abal’ dia bikin transaksi palsu dan tetap bayar pajak ke Grab. Jadi ya saling menguntungkan,” ujarnya.

Modus order fiktif yang menguntungkan ini adalah pihak resto awalnya membuat sebuah order makanan dengan lengkap tujuan alamatnya. “Setelah driver sampai kita kadang di kasih cuma nota. Kadang di kasih kresek tapi katanya nggak boleh dibuka,” sambung dia. Setelah menerima nota atau kantong plastik dengan isi yang menjadi misteri, mereka tetap menyelesaikannya di tempat tujuan pengantaran.

“Di tempat tujuan orang yang nerima itu-itu aja. Saya sudah bolak-balik terima yang model gitu. Mereka kan juga ditarget penjualannya. Ya gimana ya menguntungkan kita dapat poin pekerjaan. Penyelesainnya juga cepat karena nggak antri dan masak. Tapi kadang ya ada rasa bersalahnya gitu. Ini kan nggak jujur namanya,” ungkap SA.



Hal serupa juga diakui driver ojol lain yakni MY. Kepada radarmalang.id ia mengungkapkan bahwa praktik order fiktif memang sangat menguntungkan. Apalagi dengan target poin pekerjaan dari Grab yang semakin hari semakin tinggi. Untuk mendapatkan intensif Rp 31 ribu saja, driver harus memperoleh target 230 poin. Untuk penyelesaian GrabBike driver mendapat poin 10, sedangkan GrabFood poinnya 18 dan GrabExpress 13 poin.

“Kita pasrah dapat orderan Resto abal-abal karena tuntutan pekerjaan yang tinggi. Untuk ngejar intensif 225 ribu kita harus ada poin 455 loh. Kalau dapat ya dijalani, kalau enggak ya udah. Ini kan masalah kejujuran, kalau dirugikan jelas nggak ada disini,” bebernya.

Selama ini menurutnya transaksi palsu ini sudah diketahui pihak Grab Malang. Namun sayang, alih-alih bertindak, pihak Grab menurutnya hanya menerima masukan dan membiarkan beberapa Resto abal-abal tetap beroperasi.

P”Ya karena driver dapat poin, resto mencapai target, grab juga tetep dapat pajak resto jadi ya wis ngalir. Grab juga kalau dilapori bilangnya cuma ya nanti ditindaklanjuti keluhannya,” ceritanya menirukan perkataan pihak Grab.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting : Kholid Amrullah