Mengintip Industri Cobek di Dusun Petung Wulung, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari

Meski jumlah perajin batu di Dusun Petung Wulung, DesaToyomarto, Kecamatan Singosari, sudah banyak berkurang, tapi warga di sana tetap menjaga predikatnya sebagai kampung cobek. Pasar Jawa, Bali, dan Kalimantan menjadi jujukan pasti batu-batu cobek yang diproduksi di kampung ini.

Meski jumlah perajin batu di Dusun Petung Wulung, DesaToyomarto, Kecamatan Singosari, sudah banyak berkurang, tapi warga di sana tetap menjaga predikatnya sebagai kampung cobek. Pasar Jawa, Bali, dan Kalimantan menjadi jujukan pasti batu-batu cobek yang diproduksi di kampung ini.

Ada cerita panjang di balik produktivitas warga Dusun Petung Wulung, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, dalam memproduksi cobek. Salah satu peralatan dapur yang sering dipakai untuk membuat sambal itu sudah turun-temurun menjadi pekerjaan warga di kampung ini. Konon, usaha ini sudah digeluti lebih dari 100 tahun. Saat ini, para perajin yang masih produktif sebagian besar merupakan generasi keempat dari pendahulunya.

Hartono, kepala Dusun (Kasun) Petung Wulung, menuturkan, saat ini masih ada 60 perajin batu cobek di wilayahnya. Bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut sudah jauh berkurang. ”Kalau anak-anak muda sudah jarang yang minat kerja ini. Mindset mereka menjadi buruh di perusahaan jauh lebih bergengsi ketimbang mengolah batu,” terang Hartono.

Padahal, jika mau telaten dengan kerajinan batu tersebut, pundi-pundi uang yang didapatkan bisa mengalahkan gaji karyawan. Sebab, kerajinan berbahan baku batu vulkanis tersebut punya konsumen yang tidak sedikit. Pelanggannya tersebar di seluruh Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan. Semuanya disuplai dari Dusun Petung Wulung, Desa Toyomarto.

Sejarah berdirinya kampung cobek di sana cukup kompleks. Hartono menceritakan, hal ini mencuat dari kakek buyutnya yang bernama Mbah Pahing. Mbah Pahing awalnya seorang perajin batu dari Kecamatan Kasembon, yang kemudian menikah dengan gadis asal Dusun Petung Wulung. ”Warga kemudian diajari cara mengolah batu supaya bisa menjadi mata pencaharian. Itu dulu, mulai penjajahan,” kata dia.

Keterampilan yang diajarkan Mbah Pahing rupanya cukup bermanfaat. Lantaran, lingkungan di Dusun Petung Wulung dan di Desa Toyomarto banyak terdapat batu sisa-sisa erupsi Gunung Arjuno. Batu dari Desa Toyomarto diyakini berbeda dengan batu dari daerah lain. Teksturnya sedang dan memiliki pori-pori lebih besar dari batu pada umumnya. ”Untuk memecah batu-batu berukuran besar, kami masih menggunakan paju dan hammer,” ujar Hartono.

Paju adalah alah pemecah sejenis besi yang berujung lancip. Alat ini menyerupai linggis, tetapi lebih pendek. Mata paju yang runcing biasanya diletakkan di atas batu dan dipukul dengan hammer (palu) agar batu terbelah.

Bukan hanya cobek, warga di sana juga produktif menghasilkan beberapa kerajinan lain seperti gilingan jagung, kedelai, hingga lumpang. Terbaru, para perajin juga mulai mencari cara mengolah limbah batu menjadi barang yang memiliki nilai jual. ”Kami sedang mencoba berinovasi dengan membuat hiasan-hiasan rumah dari batu. Ternyata lumayan (banyak) juga peminatnya,” sambung Hartono.

pewarta :Farikh Fajarwati
penyunting :Bayu Mulya
copy editor :Arief Rohman
foto :Bayu Eka