Mengintip Fasilitas Perawatan Pasien di Rumah Sakit Apung

JawaPos.com – Salah satu upaya untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan adalah dengan memperbanyak fasilitas kesehatan. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah 3T (Terluar, Terdepan, dan Tertinggal), fasilitas layanan kesehatan Rumah Sakit (RS) Apung bisa menjadi salah satu solusinya.

Mengambil salah satu contoh RS Apung (RSA) yang dekat dengan ibu kota Jakarta, adalah RSA Nusa Waluya II. RSA Nusa Waluya II merupakan RSA ketiga yang dikelola oleh para praktisi kesehatan yang tergabung dalam Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE).

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan dr. Tri Hesty Widyastoeti, Sp.M, MPH, mengunjungi Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang berlabuh di Baywalk Mall, Jakarta Utara, Selasa (10/12). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung fasilitas layanan medis di rumah sakit yang berdiri di atas sebuah tongkang.

“Tentunya kami terus menggulirkan dan mendukung program pemerintah dalam memberikan akses kesehatan di wilayah 3T. Tentunya kami sangat terbantu dengan layanan medis yang diberikan oleh para relawan,” ujar Tri Hesty Widyastoeti.

RSA Nusa Waluya II di Baywalk Mall, Jakarta Utara (istimewa)

RSA tersebut menyediakan akses kesehatan gratis untuk masyarakat di wilayah terpencil di Indonesia. Dengan sistem jemput bola RSA mendatangi masyarakat yang sakit.

Sedikitnya ada fasilitas mulai dari Poli Umum, Poli Gigi, Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Radiologi, Kamar Bedah, dan Ruang Rawat Inap serta fasilitas pendukung lainnya. RSA seperti itu sebelumnya lebih dulu melayani masyarakat terdampak bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (November 2018) sebelum datang berlabuh di Jakarta. Tujuannya membantu fasilitas kesehatan yang rusak akibat bencana.

Fasilitas perawatan di Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II di Baywalk Mall, Jakarta Utara. (istimewa)

Tak hanya RSA, akses fasilitas kesehatan untuk mempermudah masyarakat juga digagas seperti Dokter Terbang, Klinik Tuberkulosis, dan Panti Rawat Gizi (PRG). Program-program tersebut ditujukan kepada masyarakat yang tidak mampu menjangkau akses kesehatan karena kondisi ekonomi maupun geografis.

“Harapannya dapat mencakup wilayah yang lebih luas lagi dengan berkembangnya berbagai program seperti penambahan armada RSA, fasilitas dan alat kesehatan. Ke depannya RSA Nusa Waluya II akan menambah fasilitas ruang bedah yang dilengkapi alat bedah minimal invasif (laparoskopi),” pungkas Tri.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Marieska Harya Virdhani