Menginap di Stasiun, Sampai Telusuri Jalur Rel Mati

Haryo Prasodjo adalah Sepurman sejati. Keseharian dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini tak bisa lepas dari sepur (kereta api). Mulai dari mengoleksi miniatur kereta api, napak tilas sejarah kereta api, sampai membuat blog soal kereta api.

 

MIFTAHUL HUDA

 

Sejak kecil, Haryo Prasodjo mengaku sudah jatuh cinta dengan dunia perkeretaapian. ”Dulu dikenalkan oleh kakek,” kata pria kelahiran Jakarta, 1989 silam.



Sang kakek yang seorang veteran, acap kali membawa Haryo ke sejumlah museum. Ada banyak benda bersejarah di museum. Tapi, apa pun soal kereta api selalu membuatnya tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh. ”Sejarah dan filosofi tentang kereta api begitu menarik, saya bisa menelusuri berbagai rekam sejarah yang ada benang merahnya dengan kereta api,” tegas pria yang sudah merasakan hampir semua rute perjalanan kereta api di Pulau Jawa tersebut.

Rasa cintanya makin menjadi begitu memasuki masa kuliah. Haryo mengoleksi beragam miniatur kereta api. Jumlahnya kini sudah puluhan unit.

Dia lantas merinci koleksi miniaturnya. Di antaranya, 8 miniatur lokomotif bergerak, 20 miniatur gerbong penumpang, 50 miniatur gerbong barang, serta beberapa miniatur pajangan.

Miniatur itu ada yang dia beli dari penjual dalam negeri. Tapi, ada pula yang harus impor. Harganya, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Tak cuma miniatur, Haryo juga mengoleksi pernak-pernik lain tentang kereta api. Mulai dari buku sejarah kereta api dan majalah kereta api terbitan 1967, sampai mug, kaus, jam dinding bertema lokomotif.

Namun belakangan, setelah mengelola blog tentang kereta api, yakni dipomojosari.blogspot, dan akun Instagram @sejarahkeretaapiindonesia, dia punya alokasi waktu khusus untuk bergelut dengan kereta api.

Hampir setiap minggu dia melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Untuk kereta api jarak dekat bisa 5 kali dalam sebulan, seringnya perjalanan Malang–Jogja, Jogja–Mojokerto, Malang–Pekalongan, Mojokerto–Pekalongan, Sidoarjo–Malang.

Sedang untuk jarak jauh biasanya dilakukan dua bulan sekali. Saking seringnya melakukan perjalanan menggunakan kereta api, tak jarang dia juga harus menginap di stasiun. Tak sekadar menikmati perjalanan, Haryo juga melakukan penelitian.

Dia menyebut jika dulunya Belanda sudah memastikan jika kereta api merupakan moda transportasi masa depan. Bahkan, alumnus UMM ini menyebut, selain jalur air, kereta api menjadi penghubung antara Pulau Jawa dengan wilayah luar Jawa. Hanya, bantalan relnya saat ini sudah tertimbun tanah.

”Kalau digali lebih jauh, bekas rel kereta api ini banyak yang tertimbun,” kata pria yang punya tagline ”Kanjeng Haryo Taat Nyepur” di akun medsos pribadinya @kanjengharyo itu.

Menurut pria lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor ini, setiap komponen kereta api memiliki kisah dan makna yang menarik untuk dikulik. Mulai dari sejarah rel, bangunan stasiun, hingga sampai pada nama gerbong lokomotif memiliki filosofi yang menarik.

”Seperti nama rangkaian ’Rapih Dhoho’, kata Rapih merupakan kepanjangan dari ’Rangkaian Terpisah’ ada sejarahnya juga dan belum banyak yang tahu,” jelas bapak satu putri ini.

Dia juga senang menelusuri berbagai infrastruktur lama dari kereta api. Termasuk jejak-jejak rel mati hingga ke sejumlah daerah. Hasil penelusuran itu, dia olah menjadi konten blog dan media sosial.

Haryo mengaku bahwa dirinya akan terus bergelut dengan dunia perkeretaapian. Hobi ini, kata dia, sejalan dengan profesinya sebagai dosen.

”Sejarah kereta api ini sebenarnya HI (hubungan internasional) banget karena sejarahnya yang kali pertama didirikan pada masa kolonial hingga berbagai komponennya yang diperoleh dari negara lain,” ujar pria yang tergabung dalam komunitas kereta api MR22 dan Malang Raya (ML 444) ini.

Setelah apa yang dia lakukan selama ini, ada satu obsesi yang ingin diwujudkannya. Apa itu? Membangun museum kereta api.

Pewarta : *
Penyunting : Dwi Lindawati
Copy Editor : Indra Mufarendra