Mengikuti Heri Cahyono, Arek Malang yang Kelilingi Lima Negara Balkan dengan Motor

Rute selanjutnya adalah dari Kota Pisa menuju ke Kota Siena, dengan jarak sekitar 360 kilometer. Masih di Italia. Di sepanjang perjalanan, kontributor Radar Malang Heri Cahyono sempat ketinggalan dengan rombongan. Pemilik Resto De Sapa di Kasembon Malang itu pun sempat blank gara-gara GPS Satellite-nya mati. Inilah kisahnya:

Dari Pisa, kami melanjutkan perjalanan, start dari Hotel B&B tempat kami bermalam, di pinggiran Kota Pisa. Pagi itu kami menyempatkan untuk sekadar berjalan-jalan, menikmati ikon kota yakni Menara Pisa yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia.

Menara Pisa berada di Distrik Tuscany dan dibangun pada abad ke-12. Dulunya, menara ini pada awalnya dipergunakan sebagai menara lonceng gereja oleh agama Katolik.

Yang menarik, menurut cerita, Menara Pisa ini dulu dibangun tegak. Tapi tak lama setelah pembangunan, berubah menjadi miring karena salah memperkirakan struktur tanah.

Seorang teman pada satu tim ekspedisi nyeletuk dengan melempar joke, bahwa Italia pada satu sisi dikenal jago konstruksi. Tapi, pada sisi lain lemah di struktur tanah. ”Akibatnya, jadilah bangunan seperti Menara Pisa yang miring itu,” demikian joke teman saya tadi.



Pagi itu, sekitar pukul 8.30 waktu setempat, kami mendapati di Menara Pisa masih sepi pengunjung. Situasi ini menguntungkan kami, sehingga kami bisa bebas menikmati keseluruhan kompleks di Menara Pisa. Kami pun sepuas-puasnya berfoto.

Menara Pisa berada di lokasi yang sama dengan Battistero. Ini adalah sebuah bangunan berbentuk seperti kubah yang merupakan bangunan yang difungsikan untuk upacara keagamaan. Cuaca yang cerah pagi itu menjadi daya dukung menikmati secara maksimal keindahan pagi hari itu.

Setelah hampir satu jam berada di kompleks Menara Pisa, kami pun melanjutkan perjalanan. Hari itu kami berencana menempuh jarak sekitar 360 kilometer. Dari Kota Pisa, kami menuju ke Kota Siena.

Sudah seharian sebelumnya menempuh perjalanan, kami pun rata-rata sudah semakin mengakrabi kendaraan masing-masing.

Dari Kota Pisa, kami langsung menuju tol. Masuk tol. Dan sampai di Chianti Area. Ini adalah sebuah tempat yang masuk dalam kawasan Distrik Tuscany, di luar Kota Pisa. Setelah itu, kami memasuki kawasan pedesaan, tepat di daerah pertanian yang sangat luas.

Di sini terdiri dari tanaman gandum dan bunga matahari. Seperti kebanyakan negara maju lainnya, pertanian di Italia umumnya menggunakan teknologi sehingga sangat efektif dan efisien.

Jumlah pekerja jika dibandingkan dengan hektaran lahan yang digarap, sangat sedikit. Tak lebih dari hitungan jari. Sehingga saya yakin, harga pokok perolehan akan ditekan, dan harga jual akan tinggi. Dan ujung-ujungnya margin akan membesar.

Saya melihat ketika berada di kawasan pedesaan itu, rumah-rumah petani, terutama di garasi rumahnya terparkir mobil-mobil mewah. Ini berbeda sekali dengan kondisi petani rata-rata di negeri kita.

Selama menempuh perjalanan, kami melihat deretan rumah tua. Ada juga gereja tua di Chiusdino. Kali ini, kondisi jalanan tak begitu berkelok-kelok. Sehingga bisa dengan leluasa menikmati pemandangan alam. Pemandangan alam di musim panas di Eropa, sangat indah. Ada perbukitan dengan aneka tanaman. Sesekali di dalamnya ada kincir anginnya untuk pembangkit listrik.

Tak terasa, perjalanan kami sudah memasuki tengah hari. Kami mampir di sebuah restoran yang sudah dijadwalkan. Ini adalah sebuah resto kuno yang cukup terkenal di daerah Lupompesi yang bernama Bosco della Spina. Resto di sini menghidangkan makanan lezat untuk lidah Eropa. Tapi tidak untuk saya karena bagi saya di Eropa hanya ada makanan sehat. Sedang di kita sangat banyak makanan lezat.

Soal porsi jangan tanya besarannya. Porsi di Eropa jauh melebihi kapasitas perut saya. Porsi makan orang bule jauh lebih besar dari orang Asia. Tetapi patut dicatat, bahwa orang Eropa jarang sekali makan nasi seperti kita.

Di restoran tersebut ternyata ada museum sepeda legendaris Eroica, lengkap dengan story board-nya.

Seperti sebelumnya, di restoran itu kami gunakan juga sebagai tempat untuk salat. Kami memanfaatkan fasilitas musafir, yakni menjamak dan mengqoshor salat Duhur dan Ashar.

Usai salat, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata kami dibawa ke arah jalur balapan sepeda Eroica. Jalur sepeda Eroica berbentuk tanah yang bergravel dan cukup manusiawi untuk dilewati.

Beberapa saya lihat pejalan kaki menikmati hari melewati jalur sepeda ini. Saya coba menambah kecepatan, untuk menguji tunggangan saya ketika memasuki medan tanah bergravel. Hasilnya motor ini cukup stabil dengan kontur jalan seperti itu.

Hari pun menjelang sore. Saking asyiknya saya menikmati pemandangan, tanpa saya sadari, saya ketinggalan dengan rombongan. Saya lihat GPS Satellite milik saya ternyata tak berfungsi. Akhirnya saya berkeliling mencari rombongan di tengah lahan pertanian. Hasilnya, tetap saja tidak ketemu. Akhirnya saya mencoba bertanya kepada beberapa penduduk yang berpapasan. Saya bertanya menggunakan bahasa isyarat, mereka pun menjawab dengan bahasa isyarat. Yang penting sama-sama ngerti.

Dari bahasa isyarat itu, saya berusaha menyusul rombongan ekspedisi. Dan alhamdulillah, saya akhirnya bisa menemukan rombongan ekspedisi. Kami lantas bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Kali ini kami menginap di sebuah vila yang dibangun pada abad ke-13. Namanya: Monteroni D’’Arbia Motegrilli. Vila ini berlokasi di tengah lahan pertanian gandum. Kami tiba di sini pukul 6 sore, di mana matahari masih kuat menampakkan diri.

Vila ini berharga Rp 14 juta per malam. Harga ini termasuk murah untuk ukuran Italia. Terdiri dari 2 lantai, vila ini dilengkapi 3 kamar extra besar dan ruang tamu yang luas, serta satu buah kolam renang.

Yang paling menyenangkan adalah vila ini dilengkapi dengan dapur yang lengkap, ditambah mesin cuci dan setrikaan. Fasilitas seperti ini yang selama ini kami dambakan.

Di vila ini, bekal makanan dari Indonesia kami keluarkan. Pakaian kotor kami cuci, untuk persiapan beberapa hari ke depan.

Menginap di vila tanpa terbatas sekat kamar sangat menyenangkan. Kami bisa bercengkerama bebas sampai larut malam. Dan dari sini sekaligus kami membangun kekompakan. Karena sebagian besar dari kami sebelumnya tak saling kenal. Bagi orang Indonesia yang terkenal dengan keramahan, hanya butuh satu malam untuk membangun keakraban. (bersambung)