Mengenang Mbah Thalib, Menolak Kesialan …

MALANG KOTA – Kemarin (23/11), tepat 105 tahun yang lalu, seorang pria bernama Mbah Thalib mendirikan sebuah desa bernama Kedungsalam di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Berselang satu abad lebih dari pendirian desa itu, ratusan warga Desa Kedungsalam masih khidmat mengenang sang leluhur lewat acara yang diberi nama Labuhan Gunung Kombang.

Ini ditandai dengan upacara Labuhan di kawasan Ngliyep, sebuah pantai yang hanya sepelemparan batu dari desa tersebut, kemarin. Upacara ini digelar setiap tahun sekali, tepatnya setiap tanggal 13 bulan Maulid atau bulan Rabiul Awal.

Total ada 420 warga Desa Kedungsalam yang mengikuti prosesi larung sesaji di pantai itu. Sedangkan wisatawan yang ikut sekitar seribu orang. Sejak kemarin pagi, para wisatawan sudah menyemut, menanti perayaan tahunan ini. Ada yang unik dalam upacara ini, yakni semua keperluan sesaji dipersiapkan oleh kaum laki-laki.

Alasannya, jika perempuan yang mempersiapkan, dikhawatirkan di antara mereka ada yang sedang berhalangan atau haid. Jika itu yang terjadi, maka upacara menjadi sia-sia. Dalam larung sesaji kemarin, total ada 14 kepala kambing yang dilarung secara bergantian. Ada juga hasil bumi berupa sayur dan bunga tujuh rupa. Sebelum melarung sesajen, mereka membaca doa-doa.

Dalam acara kemarin, diketahui ada kerabat dari warga desa tersebut yang datang jauh-jauh dari Jogjakarta, Tengger, Bali, Singosari, dan Mojokerto. ”Khusus dari Tengger, mereka selalu minta tusuk sate dari kambing yang kepalanya dilarung tadi, katanya untuk mengusir bala (sial, Red),” kata Kepala Desa Kedungsalam Misdi di sela-sela acara.



Dia melanjutkan, acara tersebut merupakan bentuk rasa syukur warga dan penghormatan kepada yang Mahakuasa. Selain itu, upacara tersebut diyakini sebagai cara menghormati leluhur desa bernama Mbah Thalib yang pada tahun 1913 mendirikan desa tersebut.

”Pada tanggal 13 Maulid itu, Mbah Thalib kali pertama babat Desa Kedungsalam. Semenjak itu, Labuhan Gunung Kombang rutin kami gelar,” katanya.

Misdi menambahkan, rangkaian upacara bermula sejak Kamis (22/11) mulai sore, seluruh warga desa berkumpul di sebuah tempat yang diberi nama Rumah Lumbung. Memasuki pukul 12 malam, kaum laki-laki mulai mempersiapkan bahan makanan dan mulai memasak. Kemudian saat subuh menjelang atau pada Jumat (23/11) kaum perempuan meninggalkan para suaminya atau keluar dari rumah. Hal tersebut sudah menjadi ketentuan bagi masyarakat sekitar. ”Sekitar 50 tahun yang lalu, kami melanggar aturan itu, masakan kami tidak matang dan sering mendapat gangguan dari makhluk lain,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Malang Drs H M Sanusi yang hadir di acara kemarin mengaku sangat bangga dengan kearifan lokal yang ada di desa ini. Dia menekankan perlunya menjaga tradisi agar Kabupaten Malang tetap menjadi jujukan para wisatawan karena keindahan pantai dan kearifan lokalnya, seperti Labuhan Gunung Kombang.

”Seperti program Pak Rendra Kresna (Bupati Malang Nonaktif) dan saya sendiri, selain pengentasan kemiskinan, pengembangan pariwisata juga kami tekankan. Dan upacara Labuhan Gunung Kombang ini bisa menjadi daya tarik wisatawan,” pungkasnya.

Pewarta: Miftahul Huda
Copy Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Bayu Eka Novanta