Mengenali Ciri-ciri Hewan Penular Rabies dan Cara Penanganannya

JawaPos.com – Di balik kelucuan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, ternyata menyimpan bahaya yang dapat mengancam keselamatan bagi pemiliknya bahkan orang lain. Kedua mamalia yang banyak diminati jadi hewan peliharaan itu ternyata masuk golongan hewan penular rabies (HPR).

Jika pemilik hewan tidak rutin memeriksa anjing atau kucing justru bisa menjadi malapetaka. Apalagi, bila si majikan minim pengetahuan tentang penyakit rabies yang rentan menjangkiti anjing dan kucing.

Hal itu disampaikan Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Perikanan (KPKP) Jakarta Pusat Bayu Sari Hastuti. Menurutnya, perlu sedini mungkin untuk mengantisipasi bahaya penularan virus rabies dari anjing dan kucing. Salah satu caranya dengan memeriksakan secara berkala kepada dokter hewan.



“Pencegahan rabies perlu dilakukan sejak dini. Pemilik hewan kucing dan anjing harus sering-sering memeriksa gejala-gejala rabies,” ujarnya kepada JawaPos.com, Selasa (18/12).

Bayu menjelaskan, dampak membahayakan penyakit rabies salah satunya bisa merusak jaringan sistem saraf otak. Penyakit yang dikenal dengan sebutan anjing gila itu ditularkan melalui gigitan, air liur, maupun cakaran hewan.

Gejala pasien terjangkit virus rabies tidak langsung muncul sejak tergigit hewan penular. Gejala terinfeksi virus rabies akan terasa beberapa hari kemudian seperti mengalami kegelisahan, kebingungan, hiperaktif, kesulitan menelan, air liur berlebihan, takut air (hydrophobia) karena kesulitan dalam menelan, halusinasi, insomnia, kelumpuhan parsial hingga kerusakan otak.

Bayu pun memberikan tips bila mendapat serangan gigitan anjing dan kucing terjangkit rabies. Pasien yang terkena gigitan anjing dan kucing segera harus diperiksa. Kemudian pasien diberikan penanganan dengan cara pemberian imunoglobulin (serum) atau vaksin anti rabies.

Pemberian serum atau vaksin itu bertujuan untuk membantu tubuh dalam melawan virus penyebab infeksi pada otak dan sistem saraf. Penanganan rabies harus segera dilakukan. Jadi harus segera dibawa ke rumah sakit, dan anjing atau kucing yang menggigit harus segera diobservasi.

Bayu menyarankan, hewan rentan rabies wajib diberikan vaksin satu kali dalam setahun untuk memastikan terhindar dari penyakit tersebut. Ia pun berbagi tips mengenali anjing dan kucing yang terkena gejala rabies.

Di antara ciri-cirinya yaitu ekor menekuk ke bawah hingga ke bagian perut, terlihat agresif, air liur menetes, serta tampak bingung, sakit, atau lesu. Ia mengatakan, anjing dan kucing lebih mudkah menyerang manusia jika terpapar virus rabies.

“Selain karena menderita rabies, anjing akan mudah menyerang manusia saat kondisi lapar, diganggu, atau diperintah majikannya untuk menyerang,” tegas Bayu.

Di wilayah DKI Jakarta sendiri tersedia dua rumah sakit rujukan bagi korban gigitan hewan terjangkit rabies. Yaitu, RSPI Sulianti Saroso Sunter Jakarta Utara dan RSUD Tarakan Jakarta Pusat.

Bayu menyebutkan, sejak 2004 lalu, DKI Jakarta telah berhasil mempertahankan status sebagai wilayah bebas rabies. Dengan demikian, ia menjamin penularan rabies di Jakarta sangat minim, dan nyaris tidak ada.

“Sejak 2004, Jakarta sudah dinyatakan bebas rabies. Hingga saat ini belum ada catatan korban terkena rabies di Jakarta,” tutup Bayu.

(wiw/JPC)