Mengenal Carolina Marin, Sang Bintang Lapangan Bulu Tangkis

Mengenal Carolina Marin, Sang Bintang Lapangan Bulu Tangkis

Lalu, apa saja yang dilakukan Carolina agar berhasil menggapai cita-citanya di lapangan? 

Carolina Marin memang Lahir di Madrid, Spanyol, pada 25 tahun silam. Sekilas, Marin terlihat seperti sosok pendiam, tak banyak bicara. Namun, ketika ditanya soal perjalanan hidup dan karirnya, Marin dengan ramah dan bersahabat menceritakannya.

Perempuan milenial ini tentu beruntung lahir di zaman modern. Hal itu membuatnya semakin mudah mendapatkan akses untuk menggapai cita-citanya. Marin sudah mendapatkan banyak gelar dan prestasi. Sebut saja gelar juara 1 dunia BWF sudah disandangnya di nomor tunggal putri.

Baginya, tak ada hari tanpa berlatih badminton. Badminton adalah hidupnya. Dia berusaha membuat olahraga itu populer di negaranya yang selama ini selalu terkenal dengan olahraga sepak bola.



“Setiap hari saya bermain dan berlatih. Saya suka dan enjoy dengan apa yang saya lakukan. Saya bertemu banyak orang di dunia, banyak pemain hebat,” ujarnya di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta menjelang turnamen Indonesia Masters 2018.

Selain badminton, tak ada olahraga lain yang dijalani Marin. Baginya, sangat penting untuk tetap fokus di bidang badminton. Meskipun kini tengah sibuk dengan jabatannya sebagai Duta atau Brand Ambassador Meliá Hotels International, Marin tetap harus konsisten untuk berlatih.

“Saya enggak punya waktu lain selain berlatih, turnamen, dan menjadi Brand Ambassador. Saya datang ke hotel Melia ketika saya bertanding. Dan mengatur waktunya beruntung saya punya tim hebat yang membuat saya nyaman dengan jadwal saya,” ujar Marin.

Marin merupakan anak tunggal di keluarganya. Karena itu, dukungan orang tuanya sangat penuh pada karirnya. Marin mengungkapkan ayah dan ibunya selalu hadir setiap kali dia turnamen di negaranya.

“Jam berapa pun orang tua saya hadir. Mau itu jam 3 pagi, jam 5 pagi, atau siang, sore malam selalu mendukung. Ya mungkin karena saya anak tunggal,” katanya.

Marin bersyukur memiliki orang tua yang tidak memaksanya melakukan sesuatu. Dia diberi kebebasan untuk menjalani bakat yang dimilikinya. Badminton adalah pilihan hidupnya, bukan paksaan atau perintah siapapun.

“Orang tua saya tak pernah memaksa atau menyuruh lakukan berlatih badminton, itu adalah pilihan saya, saya mau, dan jalan hidup saya,” tegas Marin.


(ika/JPC)