Menara Mirip Pagoda Thailand, Arsitekturnya Serbasembilan

Model arsitektur kebanyakan masjid di tanah air, kalau tidak mengadopsi gaya Timur Tengah, ya Nusantara. Tapi, Masjid Putih Darusshalihin Kota Batu ini punya model yang berbeda.

Masjid Putih Darusshalihin berada di lokasi yang strategis. Di ”pintu gerbang” sebelah timur Kota Batu. Tepatnya di Jalan Pattimura No 47, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu.

Keberadaannya dikenali dengan warnanya yang serbaputih. Juga desainnya yang tak biasa. ”Masjid ini memadukan dua arsitektur. Bangunannya berarsitektur Indonesia. Sedang menaranya lebih ke Thailand,” ungkap Parno Muttaqhin, nadzir (orang atau badan hukum yang memegang amanat untuk memelihara dan mengurus, Red) Masjid Putih Darusshalihin.

Dia menceritakan, masjid tersebut berdiri sekitar 1974. Saat itu masjid masih menggunakan nama Al Mukarrom Darusshalihin.

Adalah Mbah Abdurrahman Yusuf yang membangun masjid ini kali pertama. Sebelum menjadi masjid, lokasi itu dulunya merupakan pos pantau tentara Belanda.



Setelah Indonesia merdeka, tanah itu menjadi milik keluarga besar H. Suratman. ”Sama beliau (Mbah Abdurrahman Yusuf, Red) dibeli. Waktu itu sekitar 1971. Baru kemudian di tahun 1974 diwakafkan dan dibangun masjid,” kata bapak tiga putra ini.

Dalam perkembangannya, masjid mengalami satu kali renovasi. Renovasinya total. Bahkan, namanya pun ganti. ”Nama yang sekarang ini untuk membedakan dengan Masjid Darusshalihin yang ada di Pesanggrahan. Bedanya, masjid di sana warnanya hijau. Nah, di sini kan putih. Makanya diberi nama Masjid Putih,” ucapnya. Lebih lanjut, dia menyatakan, Masjid Putih Darusshalihin juga menggunakan model arsitektur serbasembilan. Mulai dari sembilan kubah, sembilan lantai menara, dan beberapa sarana-prasarana masjid yang berjumlah serbasembilan. Seperti tangga masjid.

”Angka sembilan memiliki pesan agar umat senantiasa menjaga sembilan lubang di tubuh. Sebab, barang siapa yang bisa menjaganya insya Allah bahagia di dunia maupun di akhirat,” ujarnya.

Dia mencontohkan, salah satu lubang di tubuh manusia, yaitu mulut dan telinga. Mulut tidak boleh digunakan untuk ghibah. Sedangkan telinga tidak digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang buruk dan bertentangan dengan nilai agama.

”Angka sembilan ini juga terinspirasi dari Wali Sanga. Di mana kami mengartikan sebagai kepemimpinannya beliau yang dalam menyebarkan agama Islam dengan cara rahmatan lil ’alamin,” imbuhnya.

Yang menarik, saat renovasi dilakukan pada 2009, Masjid Putih Darusshalihin menghimpun dana dari 1.848 orang yang berasal dari sembilan negara. ”Unik memang masjid ini. Semuanya serbasembilan,” kata Parno.

Sembilan negara itu, yaitu Indonesia, Finlandia, Malaysia, Brunei Darussalam, India, Arab Saudi, Singapura, Jepang, dan Australia. ”Gak ngerti. Mereka tahunya dari mana jika masjid ini mau ada renovasi,” katanya.

Adapun arsitek pembangunan Masjid Putih Darusshalihin adalah H. Hasan Jumain. Hasan selama ini dikenal sebagai pemilik Sate Kelinci Batu.

Pewarta : M.Badar Risqullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Inda Mufarendra
Fotografer : Badar