Membincangkan Dolo dan Para Lelakinya

JawaPos.com – Seniman patung Dolorosa Sinaga tengah bersiap meluncurkan buku yang menandai jejaknya dalam berkesenian sepanjang 40 tahun terakhir. Rencananya, buku berjudul Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi tersebut akan diluncurkan akhir bulan nanti. Pada akhir pekan ini, serangkaian kegiatan menyambut peluncuran buku tersebut digelar di Galeri Nasional Indonesia. Ada diskusi, pembacaan dramatik, hingga lokakarya seni untuk anak-anak.

Diskusi menyambut peluncuran buku tersebut dibingkai dalam dua tema berbeda. Diskusi pertama pada Sabtu (18/1) berjudul Dolo dan Para Lelakinya: Potret dalam Karya Dolorosa Sinaga. Lalu, pada Minggu (19/1) tema diskusi adalah Kearifan Lokal dan Punahnya Masyarakat Adat. Dua tema diskusi tersebut dengan terang menunjukkan eksistensi Dolo, sapaan Dolorosa Sinaga, di dua medan idealisme yang selama ini dekat dengannya yaitu seni dan aktivisme.

Pada diskusi Dolo dan Para Lelakinya, tulisan Lisabona Rahman tentang Dolo dan proses keseniannya menjadi pemantik yang direspons oleh sejumlah penanggap. Para penanggap itu adalah Seno Gumira Ajidarma, Sukmawati Soekarnoputri, Bonnie Triyana, Yori Antar, Abdon Nababan, dan Danial Indrakusuma. Lisabona menyebut, lelaki adalah figur yang jarang Dolo ciptakan sepanjang perjalanan keseniannya. ’’Lelaki menjadi figur anomali dalam karya-karya Dolo yang didominasi perempuan mempresentasikan isu-isu perempuan, ’’ katanya. Menyitir Dolo, Lisabona menyebut seniman yang juga mengajar di Institut Kesenian Jakarta itu tak pernah mampu menciptakan figur lelaki. Tiap mencoba menghadirkan laki-laki, selalu saja berakhir menjadi sosok perempuan lengkap dengan sanggulnya.

Lebih dari 620 karya yang pernah Dolo ciptakan, sosok laki-laki memang amatlah jarang. Dari yang jarang itu, Lisabona mencatat ada lima figur lelaki dalam karya Dolo. Para lelaki itu adalah Soekarno, Multatuli, Wiji Thukul, Dalai Lama, dan Gus Dur. Ada kesamaan dalam figur-figur lelaki itu. Mereka adalah para pejuang yang tak pernah menyerah. Lalu, figur-figur itu juga memiliki kesamaan sebagai pejuang yang akhirnya terpinggirkan. Mereka sama-sama bukan pemenang.

Dalam amatan Lisabona, proses penciptaan karya Dolo selalu menunjukkan tegangan antara pikiran dan tubuhnya sebagai seniman. Konsep dan ide dalam pikiran mengejawantah menjadi karya lewat kerja tubuh melalui tangan Dolo. Hingga kini Dolo memang selalu menggunakan tangannya untuk mencipta karya tiga dimensi tanpa pernah menggunakan teknik cetak yang lazim dilakukan oleh para seniman patung.

Salah satu karya Dolorosa Sinaga berjudul Multatuli. (dok/Somalaing Art Studio for Jawa Pos)

Diskusi yang mestinya membincangkan respons para penanggap terhadap karya Dolo dan tulisan Lisabona tersebut sayangnya justru terasa hambar. Para penanggap malah tidak membincangkan karya Dolo. Yang mereka bicarakan adalah sosok patung-patung itu. Hanya Seno Gumira yang sedikit menyentuh tema diskusi dengan menyebut untuk menghadirkan figur sebetulnya tidak berarti harus menghadirkan sosok itu dengan utuh. Penanggap lainnya sama sekali tak membahas karya walau sebetulnya sangat mungkin melakukannya mengingat mereka memiliki kedekatan dengan para lelaki Dolo tersebut.