Memacu Adrenalin ketika Menggambar di Jalanan Sinergi Jawa Pos

———————————————

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro.

———————————————

KETIKA melewati tembok-tembok di seputaran Jalan dr Sutomo atau Jalan AKBP M. Suroko pasti melihat sebuah karya seni graffiti yang secara tidak langsung memberikan kesan berwarna pada tembok yang sudah kumuh tersebut.



Para seniman yang menggambar tembok tersebut tentunya bergerilya saat malam hari, agar tidak kena semprot pemilik tembok atau aparat kepolisian. Identitas mereka pun cukup rahasia, sehingga butuh informasi dari jaringan pertemanan. 

Salah satu seniman jalanan Bojonegoro yang tidak mau disebutkan namanya pun mengatakan, memang mereka tidak ada niat terkenal atau ingin dikenal. Seniman tersebut bisa ditemui setelah memeroleh nomor kontaknya dari Instagram.

 Ketika bertemu di sebuah kedai kopi di Jalan Pattimura, seniman merupakan sosok pria bertubuh kurus dan memiliki rambut yang lurus.

Berambut gondrong dengan kumis yang cukup lebat itu, dia pun bertutur bahwa seniman jalanan itu no name no face, sehingga dia mau disebut sebagai Krick Art saja.

’’Tagging nama saya saat nge-bomb (menggambar di media jalanan) ialah Krick Art, jadi panggil saya itu saja,” jelasnya dengan nada kalem.

Dia bercerita, dirinya tak sendirian, ada delapan seniman lainnya yang juga berjalan bersama dia. Dari total sembilan seniman jalanan tersebut, Krick Art mengatakan, membentuk sebuah wadah berupa komunitas yang bernama Bojonegoro Street Art (BSA).

Komunitas tersebut mewadahi segala jenis seniman jalanan dalam dunia gambar di Bojonegoro. ’’Saya bukan pendiri komunitas tersebut, saya pun awalnya diajak oleh salah satu kawan yang mengetahui karya graffiti saya di akun Instagram saya,” ujarnya. 

Adapun, tambah dia, dulu sempat diberi nama Serikat Mural Bojonegoro, karena scope-nya lebih luas, akhirnya dipatenkan menjadi BSA. ’’Diubah jadi BSA, karena ada banyak seniman gambar jalanan di dalamnya, tak hanya mural saja. Ada graffiti atau artwork,” jelasnya. Sementara itu, BSA lahir sejak Mei 2017.

Di dalam BSA tak hanya pria saja, namun ada juga dua perempuan dari sembilan anggota BSA. Sedangkan dari segi gaya menggambar, ada tiga orang seniman graffiti dan enam orang seniman mural atau artwork.

Lebih lanjut, Krick Art menerangkan bahwa BSA lahir atas dasar kesamaan hobi lalu berserikat untuk tujuan yang positif. Karena itu, di dalam tubuh BSA tidak ada istilah ketua, semuanya anggota dan saling berkerjasama dengan baik. ’’Kami intinya hanya butuh kekompakan menjalankan hobi-hobi kami tersebut,” ujarnya. 

Selain itu, ketika menggambar pun lebih ringan membeli bahan-bahannya karena bisa kolektif seluruh anggota BSA untuk merealisasikan sebuah karya bersama.

Krick Art menyebutkan, setidaknya butuh bujet minimal Rp 500 ribu ketika ingin membuat karya graffiti.

Sedangkan untuk karya mural harus modal setidaknya Rp 100 ribu untuk membeli cat.

’’Graffiti bahannya mahal dan tidak ada di Bojonegoro, jadi memang hobi yang butuh modal banyak,” ujar pria berusia 22 tahun itu. 

Gambar-gambar yang telah mereka buat tentu syarat akan pesan yang mengkritik. Meski seluruh anggota masih terbilan muda, namun mereka mampu mengekspresikan segala emosinya lewat menggambar.

Salah satu karya yang dibuat bersama ialah tulisan ‘Bjn Butuh Seni’ di seputaran Jalan Panglima Polim.

’’Kami hanya ingin berpesan dan tidak ada niat mengotori tembok, justru kami membuat tembok menjadi lebih berwarna dan mempunyai karakteristik,” tuturnya.

Menjadi seorang seniman jalanan memang hal yang paling berharga adalah kepuasan diri. Karena menggambar di jalanan butuh nyali yang kuat, karena tak jarang para anggota BSA diusir oleh pemilik tembok saat menggambar, terkadang juga diobrak oleh polisi.

’’Kami punya pengalaman ketika menggambar tembok baru setengah jalan sudah dimarahin pemilik tembok dan mengusir kami, sehingga gambar pun terlihat jelek dan pesan dari gambar tidak sampai kepada orang-orang yang melihatnya,” katanya.

BSA pun tiap akhir pekan pasti berkumpul untuk merundingkan sebuah karya bersama. Kalau pun tidak ada ide, mereka pasti melakukan kegiatan menggambar bersama.

Ketika merundingkan sebuah karya bersama, BSA pasti berkolektif beli bahan lalu bergerilya saat malam hari, setidaknya pukul 00.00 hingga 02.00. ’’Cari tema, lalu dikonsep, berangkat beli bahan, malamnya langsung beraksi,” ujarnya. 

Krick Art pun mengkritik bahwa ada ruang berkesenian bagi seniman jalanan yang ada di dalam BSA. Padahal dari gamabar-gambar yang telah mereka buat, bisa dijadikan spot foto yang bagus.

’’Entah kenapa ketika pemuda ingin mengekpresikan diri dalam berkarya justru dilarang. Padahal, sebuah karya bisa diapreasiasi mereka-mereka yang hobi foto di depan gambar-gambar tersebut,” pungkasnya.

(bj/gas/nas/bet/JPR)