Melihat Sekolah Di Malang Cegah Bullying, Manfaatkan “Malaikat Raqib dan Atid”

KOTA MALANG – Bullying belakangan menjadi topik hangat di Indonesia. Di Malang misalnya, viral siswa mengalami bullying di sekolahnya hingga harus amputasi jari tengah tangan kanan sebelah tangannya.

Beberapa sekolah pun mengantisipasi agar tak terjadi hal serupa. Misalnya di MIN 1 Malang. Sekolah yang terletak di Jalan Veteran ini memiliki beragam cara mencegah bullying. Yang paling unik ada sistem buku catatan amal, seperti apa?

Kepala MIN 1 Malang, Drs Suyanto, M.Pd menjelaskan di setiap kelas diberi Buku Pamalla (Pantau amal tercela) dan Buku Pamalia (Pantau amal mulia). Buku itu kata Suyanto dibawa 5 siswa piket per kelas setiap hari secara bergiliran.

“Modelnya ini kayak buku catatan malaikat Raqib dan Atid. Setiap hari ada 5 siswa yang bertugas mengawasi teman-temannya. Mencatat perbuatan baik dan buruk,” jelasnya.

Lima siswa yang bertugas tersebut dibagi di lima area, kantin, halaman, mushala, kantin belakang dan dalam kelas. Mereka mengawasi teman kelas mereka yang melakukan perbuatan tercela dan perbuatan baik. Pamalla untuk perbuatan buruk seperti berkata kotor, buang sampah sembarangan dan Pamelia untuk perbuatan baik seperti salat dhuha. buku ini kemudian diserahkan kepada sekolah di penghujung piket.

“Setiap pagi ada pelajaran Program Pengembangan Karakter dan Akhlak Mulia (PPKAM). Di situ, laporan perbuatan akan ditindaklanjuti. Yang tercela akan diberi konsekuensi sesuai perbuatannya, dan yang baik akan mendapat reward point sesuai tindakannya,” tutur pria asal Kediri ini.

Bagi siswa yang namanya tercatat di Pamalla, misalnya jika berkata kotor maka siswa bersangkutan wajib melantunkan istighfar 100 kali. Sebaliknya jika berbuat baik seperti salat dhuha maka akan ada tambahan nilai di mata pelajaran yang bersangkutan.

“Misalnya buang sampah kerupuk sembarangan, berapa harganya? misal Rp 500, 0-nya dikurangi, jadi anak ini harus mengumpulkan sampah 50 untuk dibuang pada tempatnya. Setiap hari mereka piket bergiliran, sekarang mereka diawasi, besok mereka akan diawasi temannya yang sedang bertugas. Jadi ini seperti CCTV manusia,” katanya.

Ia menuturkan, prinsip pengawasan ala malaikat Raqib yang mencatat amal perbuatan baik dan Malaikat Atid pencatat amal buruk ini efektif untuk memantau aktifitas para siswa demi mencegah aksi bullying seperti yang terjadi di sekolah-sekolah lain.

“Sudah dijalankan sekitar 4 tahun,” ungkap alumni IKIP Negeri (Sekarang universitas Negeri Malang) ini.

Sementara di SDN Kauman 2 Malang pun menggunakan cara yang hampir sama. Hanya saja di sekolah yang terletak di Jalan Kawi ini, yang mencatat bukan siswa melainkan guru piket.

“Dulu guru piket dijadwal, sekarang mereka inisiatif sendiri. Guru akan mencatat jika terjadi yang tidak beres, setiap harinya mengawasi dan mengunjungi kelas meskipun istirahat,” jelas Kepala SDN Kauman 2 Malang, Kurniati, S.Pd.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Fia
Penyunting: Fia