Melihat Aplikasi Majas Buatan Tim Mahasiswa UMM

Kombinasikan Game dan Komik, Diapresiasi Kemenristekdikti

Dari kiri, Dini Anggita Sumantri, Shodiq Imam Purnomo, dan Wulan Ria Anggraini menunjukkan tampilan aplikasi 1001 Majas di layar smartphone.

Aplikasi 1001 Majas dibuat dalam waktu yang relatif singkat. Kurang dari dua bulan. Tapi, manfaat besar aplikasi berbasis Android ini bakal dirasakan orang-orang yang selama ini belajar dan menggeluti dunia sastra.

Darahku mendidih mendengar umpatan kasar itu.
Pernah membaca maupun mendengar kalimat semacam itu? Apa ada yang tahu termasuk majas apakah kalimat itu? Perbandingankah? Majas pertentangan atau yang lainnya?
Sebagian orang, termasuk para siswa, mungkin masih bingung untuk mengidentifikasikan jenis majas (gaya bahasa). Jika menggunakan cara konvensional, mereka harus bolak-balik mencarinya melalui buku referensi.

Tapi, dengan aplikasi buatan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, pengidentifikasian majas bakal lebih mudah. Aplikasi bernama 1001 Majas itu merupakan kreasi dari Wulan Ria Anggraini, Dini Anggita Sumantri (keduanya mahasiswi jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia); Shodiq Imam Purnomo, Farid Nazibullah (jurusan teknik informasi); dan Faisal Hidayat (jurusan ilmu komunikasi).

Ide awal membuat aplikasi itu sederhana saja. Mereka ingin memberi kemudahan bagi orang lain, baik itu pelajar maupun mahasiswa, yang ingin mempelajari sastra. ”Kami ingin membantu mereka supaya lebih mudah belajar soal majas,” kata Dini.

”Aplikasi ini juga bagian untuk mengajak semuanya semakin mencintai bahasa Indonesia, dan mempermudah masyarakat yang ingin membuat karya sastra dengan majas,” sambung mahasiswi semester tiga itu.



Dari ide tersebut, Dini mengajak Wulan, temannya satu jurusan. Wulan lantas didapuk menjadi ketua tim dalam proyek pengerjaan aplikasi majas itu. Karena tak begitu paham teknis IT, keduanya mengajak Shodiq dan Farid. Sementara Faisal diajak bergabung karena kemampuannya dalam membuat komik.

Rancangan awal untuk 1001 Majas dibuat awal April 2018. ”Ide itu berawal dari saya (Wulan) dan Dini. Kemudian, konsepnya kami kembangkan bersama-sama. Mulai dari materi majas hingga materi komiknya,” kata Wulan.

Dia lantas menunjukkan tampilan halaman muka aplikasi 1001 Majas pada layar smartphone Android-nya. Pada tampilan itu, ada tiga fitur utama. Yakni, ”materi”, ”komik”, dan ”permainan”.

Ketika fitur majas yang diklik, akan ada bahasan empat jenis majas. Yakni, majas perbandingan, pertentangan, penegasan, dan majas sindiran.

Di setiap jenis majas itu, ada contoh kalimatnya masing-masing. Misalnya kalimat ”Darahku mendidih mendengar umpatan kasar itu” dan ”Wajahku memerah melihat dirinya tersenyum”.

”Nah, nanti di atasnya dijelaskan, bahwa itu adalah majas metafora (salah satu jenis majas perbandingan),” kata dia.

Sedangkan untuk halaman game, di dalamnya ada beberapa permainan mengenai majas. ”Ada jagoan majas,” kata mahasiswi asal Kota Sangata, Kalimantan Timur, itu.

Di sini, ada karakter layaknya game klasik Super Mario Bros. Karakter itu harus melewati sejumlah rintangan-rintangan. Di mana, di setiap rintangan itu ada pertanyaan mengenai majas.

Lalu, ada pula game teka-teki majas. ”Seperti ngisi teka-teki silang (TTS), tapi kita menebak majas,” ungkap gadis berusia 20 tahun ini.

Fitur berikutnya adalah komik. ”Dalam komik ini, dialognya menggunakan gaya bahasa. Nah, nanti di atasnya ada tulisan majasnya,” kata dia.

Komik ini pun dibuat berseri dengan tokoh dan cerita yang kekinian. Ini memang bertujuan agar penggunanya terus mengikuti cerita dan tanpa sadar sudah belajar soal majas. ”Biar semuanya bisa belajar dengan menyenangkan,” kata Wulan sambil tertawa.

Dari yang awalnya hanya berupa gagasan, aplikasi ini akhirnya bisa terwujud. Pengerjaan 1001 Majas rampung pada 30 Mei lalu. Untuk mengembangkan aplikasi tersebut, Wulan dkk mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebesar Rp 7,8 juta.

”Untuk pengerjaannya kira-kira habis sekitar Rp 7,5 jutaan,” ungkap Wulan.

Dalam waktu dekat, 1001 Majas bakal ”bertarung” dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Jogjakarta. Untuk diketahui, sekarang aplikasi 1001 Majas bisa di-download secara gratis via Google Play Store Android.

Dia berharap, jerih payah timnya mengembangkan aplikasi 1001 Majas akan terbayar. Bukan dalam bentuk materi, tapi lebih kepada manfaat yang bisa dirasakan banyak orang.

”Kami sendiri menyadari, majas itu susah. Misal, ketika membuat puisi, saya saja sering mengalami kesulitan mencari kata-kata yang indah maupun menarik,” ujar dia.

Pun demikian ketika dihadapkan pada tugas kuliah. ”Terutama mata kuliah apresiasi sastra. Kami harus meneliti karya sastra dengan mencari mana yang termasuk bagian majas perbandingan, hiperbola, dan lain-lainnya. Itu cukup susah. Dengan bantuan aplikasi ini, jadi lebih mudah,” pungkasnya.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Aris Dwi