Megawati Rayu Rektor UB

MALANG KOTA – Persaingan merebut kursi wali Kota Malang pada Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2018 kian seru saja. Setelah Moch. Anton, Sutiaji, Arief Wicaksono, Gandung Rafiul, dan Wahyu Eko Setiawan yang menyatakan siap nyalon, satu nama lagi yang gencar diisukan nyalon. Dia adalah Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Moch. Bisri.

Nama Bisri mencuat setelah perwakilan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP Ahmad Basarah secara langsung menemui Bisri di rumahnya beberapa hari lalu. Atas persetujuan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Basarah mencoba meyakinkan kepada Bisri untuk bersedia dicalonkan menjadi wali Kota Malang periode 2018–2023.

Nama Bisri masuk dalam pilihan DPP PDIP karena dianggap tokoh di Kota Malang yang cukup kredibel. ”Beliau kami nilai mewakili mainstream Islam dan kalangan dunia pendidikan. Beliau punya kapasitas untuk membangun Kota Malang,” terang Ahmad Basarah tadi malam (5/7).

Wakil Sekjen DPP PDIP ini menambahkan, ada sejumlah nama selain Bisri masih dalam penggodokan. Termasuk yang sudah mendaftar di Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP. Di antaranya, Sutiaji, Arief Wicaksono, Gandung Rafiul, dan Wahyu Eko Setiawan.

Namun, prioritas tokoh yang bakal dipilih partai berlambang banteng moncong putih tersebut adalah tokoh yang punya pengaruh kuat dan berintegritas. Dan untuk sementara, di mata PDIP, masih ada nama Bisri. Apakah ini sinyal jika Sutiaji, Arief Wicaksono, Gandung, dan Wahyu Eko gagal mendapat rekomendasi PDIP?



”Semuanya masih proses dan masih mengikuti perkembangan dinamika politik lokal Kota Malang. Termasuk bagaimana strategi dari parpol lain,” ungkap ketua Fraksi PDIP DPR RI ini.

Ada sejumlah skema yang sedang dibuat tim pemenangan DPP PDIP untuk memenangkan Pilwali Kota Malang 2018. Pertama, mengusung pasangan calon sendiri. Sebab, jumlah kursi PDIP di DPRD Kota Malang sudah memenuhi syarat mengusung paslon sendiri. Kedua, mengusung paslon sendiri tapi berkoalisi dengan parpol lain.

Untuk komposisi paslon, kepala dan wakil kepala daerah juga ada sejumlah skema. Pertama, calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dari internal partai. Kedua, calon kepala daerah eksternal dan calon wakil dari internal. Ketiga, calon kepala daerah dari internal dan wakilnya orang eksternal partai.

”Kami terus mengintensifkan komunikasi politik, baik secara internal maupun eksternal, agar benar-benar dapat mengambil keputusan terbaik bagi kepentingan masyarakat Kota Malang dan juga PDIP,” tegas anggota DPR RI Dapil Malang Raya ini.

Saat dikonfirmasi soal tawaran dari PDIP itu, Bisri terlihat santai saja. Dia mengakui memang ada petinggi PDIP yang menawari dirinya maju menjadi calon wali kota. Namun, secara halus dia menolak.

Pria kelahiran Malang, 26 November 1958, ini mengungkapkan bahwa dirinya tidak tebersit sedikit pun untuk mencalonkan diri dalam Pilwali 2018.

”Saya biasa-biasa saja. Kalau sebagai warga, ya saya selalu mendukung semua yang terbaik. Kita lihat perjalanannya nanti,” beber pejabat berpangkat Pembina Utama Madya ini.

Memang, ada sejumlah pihak yang mendorongnya untuk nyalon sebagai wali kota. Bahkan, juga ada selebaran yang seolah-olah dirinya akan maju di Pilwali 2018. Namun, karena beragam pertimbangan, termasuk tidak disetujui keluarga, dia tidak akan maju.

”Saya tidak tahu siapa di belakang itu (membuat selebaran). Sebab, mereka belum pernah ada komunikasi dengan saya. Saya masih belum ada pikiran ke sana (nyalon wali kota). Saya ingin jadi dosen biasa di kampus sajalah,” tegasnya.

Ketua DPC PDIP Kota Malang Arief Wicaksono mengungkapkan, kecil kemungkinan Bisri terjun ke panggung Pilwali 2018. ”Kalau Pak Bisri ini kan maqomnya rektor. Saya nggak yakin beliau mau terjun ke dunia politik,” ujar Arief.

Menurut pria yang menjabat ketua DPRD Kota Malang itu, Bisri merupakan orang akademis. Artinya, selama ini dia bergelut di ranah keilmuan dan konsisten terhadap tugasnya sebagai profesor serta rektor.

Selama ini, Arief mengaku menjalin komunikasi yang baik dengan Bisri. Dia sering bertemu Bisri dalam rangka meminta masukan-masukan akademis.

”Gagasan Pak Bisri juga banyak yang diberikan kepada saya dan Pak Wali (Moch. Anton) untuk mengembangkan dan menyejahterakan Kota Malang. Jangan dikait-kaitkan (pilwali)-lah,” tegas Arief.

Pewarta; Daviq Umar & Nurlayla Ratri
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Grafis: Yudho Asmoro