Mauliate Godang, Amang Nasution..

OMPUNG. Begitu biasa ia dipanggil oleh wartawan yang sering meliput berita-berita ekonomi. Khususnya lagi teman-teman yang ditugaskan ‘menjaga’ lingkup Lapangan Banteng, Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Keuangan.

Penunggang sedan Royal bernomor pelat resmi RI 18 itu memang merupakan sosok orang tua dan guru yang arif pun hati-hati, namun sekaligus solutif dan visioner. Tak heran, meski sudah ‘senior’, banyak kebijakan ekonomi di bawah koordinasinya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Saya yang masih muda, pengalamannya jauh dari beliau. (tapi) Beliau ini punya gagasan yang berbeda, sehingga banyak hal yang bisa diselesaikan,” kesan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri tentang sosok Darmin Nasution, Jumat (18/10).

Di mata Hanif, mantan Gubernur Bank Indonesia itu bukan hanya figur yang baik dan pintar, tetapi juga sabar. Menteri milenial itupun mengaku, dirinya yang masih muda, kadang tidak sabaran. Soal rapat koordinasi misalnya. Hanif ingin segera selesai. Kalau perlu hanya satu-dua kali rapat, urusan kelar.

“Kalau Pak Darmin sabar. Setahap demi setahap, tapi kita semua bisa lihat hasilnya baik,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Dia memandang Darmin seperti ayahnya sendiri, Hartarto Sastrosoenarto, Menteri Perindustrian ke-17 era Presiden Soeharto.

“Jadi, saya takut kuwalat. Kalau kebijakan yang sensitif, (sebelum rapat) saya ke ruangan Pak Darmin dulu (untuk konsultasi),” kata menteri dari partai berlambang pohon beringin itu.

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan, secara personal Darmin merupakan figur ayah yang sangat halus. “Pak Darmin ini walaupun dari Mandailing Natal, Beliau lebih halus dari ayah saya yang Jawa. Ayah saya (malah) lebih Batak dari Pak Darmin,” selorohnya disambut tawa tamu undangan yang hadir dalam acara Ngopi Teko: Ngobrol Pinter Tentang Ekonomi, di lantai tiga Gedung Kemenko Perekonomian.

Sebagaimana diketahui, Darmin Nasution mulai menjabat sebagai Menko bidang Perekonomian di Kabinet Kerja Jokowi-JK pada 12 Agustus 2015. Ini adalah reshuffle kabinet pertama yang dilakukan Jokowi. Darmin menggantikan posisi Sofyan Djalil yang digeser-tugas ke Taman Suropati, sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Sementara itu, pada perombakan kedua Kabinet Kerja, datanglah Sri Mulyani Indrawati (Ani). Kembali ke tanah air usai meninggalkan tugasnya di Bank Dunia sebagai Direktur Pelaksana, Ani resmi menggantikan Bambang Brodjonegoro sebagai Menteri Keuangan pada 27 Juli 2016.

Pada reshuffle kedua tersebut, Bambang digeser-tugas menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas. Sedang, Sofyan Djalil dirotasi menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) menggantikan Ferry Mursidan Baldan.

Di mata Ani, secara personal Darmin adalah sosok yang disiplin, rendah hati dan baik. Sehingga Ani yakin akan banyak orang yang merindukan Darmin. Sementara secara profesional, Ani melihat Darmin cukup piawai mengorkestrasi kementerian-kementerian di bawahnya sehingga menemukan jalan tengah.

“Kalau kita mau menangkan satu sektor, satu pelaku, pasti berimplikasi ke yang lain. Jadi, pekerjaan Pak Darmin yang paling rumit adalah mencari titik tengah yang baik dampaknya,” ungkap Ani menyebut kesulitan itu bisa dilalui lantaran memang Darmin punya jam terbang tinggi.

Penggebuk drum Elek Yo Band, Basuki Hadimuljono punya komentar singkat tentang Darmin. “Saya yang mungkin jarang hadir kalau rapat. Buat saya Ompung itu sip!” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu.

Menteri-menteri ekonomi dan kepala lembaga di bawah Kemenko Perkonomian saat mengabadikan foto bersama wartawan, Jakarta, Jumat (18/10). (dok. Humas Kemenko Perekonomian)

Sosok Darmin yang demikian itu, bukan hanya dirasakan oleh para menteri di bawah koordinasinya. Esa, seorang wartawan dari media asing, yang kerap meliput isu ekonomi makro punya kesan sendiri terhadap Ompung. Baginya, Darmin merupakan guru yang sangat sabar.

“Ompung itu orang yang bijaksana. Banyak menteri atau ekonom pintar, tapi mereka pakai bahasa langit. Sementara Ompung itu akan mencari cara paling sederhana untuk menjelaskan kepada wartawan, dengan bahasa yang membumi,” kata Esa.

Wartawan lain, Linda Silaen menilai Darmin adalah menteri yang punya wawasan luas dan sabar. “Ompung itu begawan ekonomi yang sabar. Secapek apapun, nggak pernah marah (kalau ditanya wartawan),” ucapnya dengan suara parau.

Pekerjaan Terberat jadi Menko itu..

Darmin sendiri mengaku banyak suka-dukanya menjadi Menko bidang Perekonomian. Selain soal koordinasi, ada juga permasalahan ego sektoral sehingga masalah yang sudah bertahun-tahun eksis tak kunjung selesai.

“Yang paling menyibukkan kita dalam koordinasi itu ada beberapa komoditas. Saya nggak usah bilang nama orang. Apa itu (komoditasnya)? Satu, beras. Dua, gula. Tiga, tapi ini dulu, sekarang sudah lebih baik, yaitu daging,” kata Darmin menjawab pertanyaan wartawan, disambut tawa hadirin.

Tapi intinya, lanjut Darmin, adalah soal pertanian. Salah satu faktornya yakni masalah data luas lahan pertanian. Darmin mengatakan, ke depan permasalahan data ini masih harus difinalisasi.

“Kenapa soal luas lahan sawah sulit disepakati? Karena ada hubungannya dengan pengeluaran yang bertahun-tahun, subsidi pupuk. Kalau turun luas lahannya, subsidi pupuk dipotong. Jadi, ini bukan soal rasional saja. Ada soal ketakutan dan macam-macam,” jelas mantan Plt Menko PMK itu.

Meski ada permasalahan pelik di satu-dua sektor, alih-alih ‘perang statement‘ di media, Darmin lebih sering pasang badan. Ia pun sadar akan konsekuensi dari kebijakan apapun yang dikeluarkan.

“Kalau (rakor putuskan) impor, habis saya dicaci sama seluruh Republik. Tapi bisa dilihat, inflasi kita 3,2-3,3 persen. Belum pernah Republik kita menikmati stabilitas itu selama lima tahun. Jangan anggap remeh soal (menjaga stabilitas) itu,” tuturnya lirih.

Sementara itu, ketika ditanya menteri mana yang paling susah diajak rapat koordinasi, Darmin hanya tertawa. “Menteri PUPR yang paling susah hadir, bukan Mentan. (Pak Basuki) bukan tidak mau hadir, (tapi Beliau) ke lapangan mulu dengan Pak Jokowi,” selorohnya.

Meski jarang menghadiri rapat koordinasi, Basuki diakui Darmin selalu mengirim dirjen-dirjennya. Sedang Ani, yang kantornya hanya bersebelahan dengan Menko Perekonomian, Darmin sudah cukup paham.

“Kalau Bu Ani itu tidak ada masalah. Kalau masalahnya berat dia datang, kalau nggak berat, ya nggak apa-apa (nggak datang). Saya nggak pernah pasang harga tinggi, harus menterinya (yang datang). Yang benar saja, kita ini kesibukannya tinggi. Haha,” katanya.

Sebentar lagi, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 akan dilangsungkan. Lepas itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengumumkan susunan Kabinet Kerja jilid II.

Tentu tim ekonomi ke depan diharapkan diisi oleh orang-orang yang kompeten dan bisa kompak. Semoga akan ada ompung-ompung lain dan menteri-menteri berprestasi lainnya di periode kedua Jokowi.

Mauliate, Ompung. Terima kasih atas warisan pengetahuan dan kebijakan-kebijakan baik yang mendorong perekonomian.