Mau Sunat Tapi Sudah Dewasa? Tak Perlu Khawatir, Ini Kata Dokter

Mau Sunat Tapi Sudah Dewasa? Tak Perlu Khawatir, Ini Kata Dokter

Akhir Maret 2007, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) merekomendasikan tindakan sunat (sirkumsisi) pria sebagai salah satu cara tambahan untuk menurunkan risiko penularan HIV pada pria heteroseksual.

Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan karena manfaat sunat bagi kesehatan sudah banyak diketahui. Tidak heran jika sunat kini tidak hanya dilakukan kalangan anak-anak, melainkan juga orang dewasa yang mulai menyadari manfaat sunat bagi kesehatan.

“Karena itu tak usah malu untuk sunat dewasa. Sunat dapat dilakukan karena alasan agama atau karena terdapat indikasi medis seperti fimosis, parafimosis, balanitis, dan postitis,” jelas Dokter Spesialis Bedah Saraf, Pakar Nyeri dan Tulang Belakang Rumah Sunatan dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS pada JawaPos.com, Kamis (22/2).

Ia pun menjelaskan Center of Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat juga telah menganjurkan sunat sebagai salah satu pencegahan infeksi penyakit menular seksual. Selain untuk mencegah penyakit, seorang pria dewasa dapat termotivasi untuk melakukan sunat karena berbagai alasan.

Pada dasarnya, kata Mahdian, tindakan sunat pada pria dewasa sama saja dengan sunat pada anak-anak. Meski demikian, tindakan sunat pada orang dewasa tidak semudah pada anak-anak. Secara fisik, penis pria dewasa memiliki karakteristik penis yang berbeda dari anak-anak dan lebih berisiko mengalami perdarahan.



“Karakterisitik kulup atau prepusium yang hendak dibuang pada anak dan dewasa juga berbeda sehingga memerlukan penanganan khusus,” ujarnya.

Kendala lainnya, pria dewasa rutin mengalami ereksi bahkan dengan rangsang kecil sekalipun sehingga berisiko menimbulkan rasa nyeri, perdarahan. Sehingga terlepasnya jahitan setelah sunat dilakukan.

“Meski begitu tren sunat kini semakin populer di luar negeri karena sudah menyadari manfaatnya bagi kesehatan,” tegas Mahdian.


(ika/JPC)