Masuk Ranah Industri, Puslitbangtan Katrol Pengembangan Kedelai Varietas Baru

MOJOKERTO- Skema double track bakal ditempuh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Kementan RI untuk pengembangan sektor kedelai. Jika sebelumnya hanya untuk produksi dan memenuhi kebutuhan pangan, ke depan tidak lagi. Lembaga ini juga bakal masuk ke ranah industri.

Konsep baru itu Jumat (8/11) ditegaskan oleh Kepala Puslitbangtan Dr Haris Syahbuddin DEA usai seremonial Panen dan Temu Lapang Produksi Benih Sumber Kedelai Lokal di Dusun Seno, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. “Sekarang kami mulai mengembangkan kebutuhan-kebutuhan varietas unggul baru untuk industri,” ungkapnya.

Untuk kepentingan tersebut, maka Balitbangtan harus bisa membaca keinginan pasar. Misalnya, kebutuhan industri tempe. Karena senangnya menggunakan biji kedelai besar, produksi varietas baru bakal mengarah ke sana. “Dengan adanya konsep global terkini itu pula, maka pengembangan hilirisasi penggunaan varietas unggul baru makin besar. Karena yang mengambil kalangan industri langsung,” tukas dia. “Peran petani sendiri sebagai contract farming. Mereka bersepakat tentang harga dengan industri lalu memenuhinya dengan menanam kedelai varietas super tadi,” bebernya.

Yang menjadi catatan, karena untuk industri, mau tidak mau, para petani harus bisa menjaga kualitas, kontinuitas, serta quantity. “Jangan sampai ketika permintaan industri tinggi, petani tidak bisa mensuplay,” tukas dia.

Sementara itu, terkait pengembangan produksi benih sumber bersama kelompok tani Margo Rukun, Mojokerto, Haris menegaskan, dalam lima tahun ke depan Mojokerto harus bisa mandiri benih. Jika saat ini lahan yang dijadikan media tanam berada di angka 20,5 hektare (ha), maka lima tahun lagi ditargetkan bisa mencapai 100 hektare.

Kepala Badan Penelitian Aneka Tanaman Kacang dan Umbi (Balitkabi) Dr Ir Yuliantoro Baliadi MS menambahkan, panen benih sumber kedelai lokal di Desa Seno, Mojokerto merupakan panen kedua sejak kerja sama dilakukan. Yakni mulai 2018 lalu yang berlanjut pada musim tanam kemarau II (Agustus-November) 2019. Total ada 50 petani binaan yang tergabung dalam Gapoktan Margo Rukun. “Saat ini luas lahan mencapai 20,5 hektare dengan mengikuti pola tanam padi-padi-kedelai,” jelasnya.

Ada tujuh varietas kedelai terbaru yang ditanam di lahan tersebut. Yakni Dena 1 (5 ha), Dena 2 (4 ha), Derap 1 (0,5 ha), Dega 1 (1,5 ha), Detap 1 (4 ha), Anjasmoro (5 ha), dan Devon (4 ha). Semuanya, merupakan kedelai kelas BD (benih dasar) sebagai benih sumber untuk selanjutnya diturunkan atau diproduksi menjadi benih kelas di bawahnya. Yakni BP (benih pokok 1 dan 2) serta BR (benih sebar), BR 1, hingga BR 4.

Dalam kesempatan tersebut, Balitkabi yang berkantor di Kecamatan Kendalpayak, Kabupaten Malang itu juga menyerahkan 1,2 ton benih kedelai lokal kepada para produsen benih, Balai Benih Induk dan UPBS BPTP Balitbangtan. (nen)