Masker Biasa Kurang Efektif Tangkal Polusi, Gunakan Masker N95

JawaPos.com – Menggunakan masker di jalanan maupun di dalam transportasi sudah menjadi pemandangan yang sangat umum dewasa ini. Tingginya mobilitas di tengah buruknya kualitas udara perkotaan hingga membuat lingkungan tak nyaman lagi adalah alasan utama penggunaan masker.

Bicara soal polusi, paru-paru tentu menjadi hal yang paling dipertaruhkan. Salah satu metode pencegahan yang paling umum digunakan untuk menangkal polusi udara adalah penggunaan masker yang menutup hidung dan mulut. Seberapa efektif menggunkan masker untuk menyaring polusi?

Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Paru setiap November, Dokter Penyakit Dalam dari Fakuktas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis dr. Mira Yulianti mengimbau masyarajat sebaiknya memilih masker jenis N95.

“Untuk perlindungan diri yang disarankan pakai masker N95, bukan masker tali biasa. Kurangi aktivitas di luar ruangan, perbaiki kualitas udara dalam ruangan. Masker N95 dapat memfilter partikel-partikel berukuran kecil,” tegasnya.

Dalam laman Times Now News, disebutkan bahwa masker N95 adalah masker yang paling umum digunakan dengan harga yang terjangkau. Masker ini bisa menyaring partikel PM 2.5 dengan efisiensi setidaknya 95 persen.

Masker itu dapat digunakan oleh masyarakat untuk pencegahan dan cenderung praktis, portabel dan dapat dilipat serta disimpan.

Namun, satu kelemahan dari masker N95 adalah tidak dapat digunakan untuk jangka waktu yang sangat lama. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), masker N95 harus diganti setiap 8 jam supaya fungsinya tetap efektif.

Masker ini juga tidak tersedia dalam berbagai ukuran hanya berbentuk setengah bulat, berwarna putih, dan dirancang khusus agar tidak mudah rusak. Kode N95 berarti menunjukkan bahwa masker anti polusi ini mampu menyaring debu, jamur, dan partikel PM2.5 hingga 95 persen.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani