Masari Arifin, Berhasil Bereksperimen Bikin Karya Seni dari Limbah Plastik

Belajar Otodidak, Teknik Melukisnya Satu-satunya di Indonesia

Berangkat dari kegelisahannya akan limbah plastik, seniman kelahiran 1967 ini membuat lukisan dengan bahan utama plastik kresek yang dibakar. Dan bisa jadi, teknik melukis dengan kresek bakar ini satu-satunya di Indonesia.

Masari Arifin sedang membakar plastik kresek di atas kanvas saat ditemui di rumahnya di Bareng Kulon VI E 984 A. Dia dan istrinya menyambut koran ini dengan hangat. Memasuki ruang tamu, tampak beberapa lukisan bermaterikan kresek menggantung di dinding-dinding. Selain itu, ada lukisan-lukisan realis landscape.

Awalnya, pria kelahiran Malang, 1 Maret 1967, ini merupakan seniman realis. Dia menciptakan lukisan realis berjenis potret, salah satu genre lukisan yang menggambarkan subjek lukisan secara visual yang biasanya diterapkan pada penggambaran subjek lukisan berupa manusia. Tapi tak berhenti di situ, karena dia juga menekuni lukisan landscape, lukisan yang menggambarkan pemandangan alam seperti gunung, lembah, sungai, dan hutan. Lukisan jenis ini memaparkan pandangan luas.

Bakat seni Arifin ini tidak lahir serta-merta. Saat SMA, dia hanya membuat ilustrasi biasa. Kuliahnya bahkan bukan jurusan seni, tetapi ABA (Akademi Bahasa Asing) atau saat ini dikenal sebagai STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing) jurusan Bahasa Inggris dan Jepang.

Dia pernah tinggal di Jogjakarta selama empat setengah tahun. Di sana, Arifin bekerja di sebuah perusahaan cor alumunium. Dia banyak berkumpul dengan para pekerja yang didominasi mahasiswa-mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Kebiasaannya bergaul dengan mahasiswa ISI lah yang membuatnya mulai coba-coba membuat karya seni, entah lukis atau kriya.

”Padahal, sebelumnya saya sempat tinggal di Bali, yang mana seni di sana juga kental. Namun, di sana saya sebagai tour guide. Tidak ada kegiatan seni,” ujar alumnus MAN 1 Kota Malang itu.

Karena suatu hal, Arifin kembali ke Malang. Itu terjadi sekitar tahun 2003. Awalnya, dia sempat ingin kembali ke Jogja. Namun, karena saat itu terjadi gempa hebat dan perusahaan sudah bangkrut, dia akhirnya memutuskan untuk menetap di Malang. Dari situ Arifin mulai menerapkan ilmu yang dia dapatkan dari Jogja. Saat ini, 100 persen dia sudah menjadi pekerja seni.

Arifin menerima pesanan lukisan potret, kaligrafi, lukisan still life (lukisan bunga, buah, pemandangan), maupun merancang desain interior. Harganya mulai Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Lukisannya itu tak hanya diminati warga Malang. Warga dari Surabaya, Bali, Jakarta, hingga Malaysia pun pernah jadi pemesannya.

Sebenarnya, Arifin memang sudah lama tertarik pada bidang limbah. Sebelum tinggal di rumahnya yang sekarang dia tempati bersama istrinya, Wiwik Pramintarsih, dan satu anaknya, Muhammad Lutfansyah, dia sempat tinggal di Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang. Di sana, dia memberi pembinaan seni terapan kepada ibu-ibu PKK dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dari 9 RW di Lesanpuro dengan memanfaatkan limbah plastik menjadi barang yang bermanfaat.

”Contohnya, seperti koran bekas dijadikan topeng Malangan dan vas bunga, dan limbah botol plastik menjadi bunga hias di dinding, pot gantung, hingga tempat lampu,” terang alumnus SMP Salahuddin Malang itu.

*Selengkapnya baca Jawa Pos Radar Malang edisi Jumat 29 Desember 2017.

Pewarta: Imarotul Izzah
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Dokumentasi Masari Arifin