Ma'ruf Amin Sebut Gerakan 212 yang Sekarang Gerakan Politik

JawaPos.com – Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH. Ma’ruf Amin menegaskan gerakan berlabel 212 adalah gerakan penegakan hukum. Namun, saat ini gerakan itu sudah tidak ada lantaran telah dibubarkan.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara silaturahmi bersama para kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) wilayah Pantai Utara di Hotel Gumaya, Kota Semarang, Selasa (5/2). Ia mengatakan, gerakan berlabel 212 adalah gerakan penegakan hukum yang dibentuk saat ramai kasus penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok.

“212 itu gerakan penegakan hukum ketika kasus penodaan agama. Saya juga yang membuat fatwanya. Lalu muncul 411 dan sebagainya. Penegakan hukum sudah dilakukan, selesai. Makanya gerakannya kita bubarkan. GNPF-MUI juga kita bubarkan,” katanya.

Tapi, kata Ma’ruf, gerakan-gerakan berlabel 212 ini muncul lagi. Termasuk yang memakai nama GNPF. Hanya saja, nama dan tujuannya beda. “Muncul lagi, dengan nama PA (Persatuan Alumni) 212. Kemudian GNPF-MUI diganti, dibuat GNPF Ulama. Sebenarnya, ini sudah tidak ada kaitannya dengan istilah penegakan hukum, tapi gerakan politik,” terangnya. 

Ia mengatakan, Pilpres tahun inilah yang kemudian dijadikan kendaraan politik kelompok-kelompok ini. Menyebut manuvernya masif dengan segala gerakan politisasinya.

Dikonfirmasi selepas acara, Ma’ruf mengatakan, baiknya gerakan berlabel 212 ini tak digunakan untuk kepentingan lain. “Kalau sekarang dihidupkan lagi, kalau untuk silaturahim nggak masalah. Asal jangan yang lain,” ucapnya. 

Pada saat acara, Ma’ruf pun sempat mengatakan, Pilpres tahun ini bukan soal memenangkan posisi capres dan cawapres saja. Namun juga momen pertarungan antar ideologi.

Oleh karenanya, ia mengimbau agar NU solid dan tetap pada jalannya. Diwujudkan dengan satu suara mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti bakal menjaga keberlangsungan NU itu sendiri. 

“Oleh karena itu saya mohon doa dan dukungan seluruh jajaran NU untuk mendukung dan memenangkan pilpres yang akan datang,” tutupnya.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Tunggul Kumoro