Mari Mengenal Komunitas Akar Tuli di Kota Malang

Di Kota Malang, ada komunitas yang anggotanya mempunyai dua tipe ini: orang yang tuli atau volunteer yang peduli pada orang tuli. Komunitas ini ingin orang tuli tidak lagi diremehkan. Seperti apa kiprahnya?

Jika kita sedang melintas di gedung Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB), kita akan banyak mendapati para mahasiswa yang berbincang menggunakan bahasa isyarat. Nyaris tak ada kendala mereka dalam bercakap-cakap menggunakan bahasa isyarat.

Para mahasiswa yang tuli dan volunteer di tempat tersebut, kebanyakan adalah anggota komunitas Aksi Arek Tuli (Akar Tuli). Bagi mereka yang tuli dan volunteer yang peduli terhadap orang-orang tuli, tidaklah asing dengan komunitas ini. Sudah lima tahun, komunitas ini menunjukkan eksistensinya.

Komunitas ini tidak membatasi keanggotannya. Syarat utama bagi yang ingin bergabung ke komunitas ini adalah respek terhadap orang-orang yang tuli. Salah satunya, tidak boleh menggunakan bahasa oral saat berada di tempat ini. Oleh karenanya, bagi orang hearing (tidak tuli) bisa bergabung menjadi volunteer melalui open recruitment. Nantinya akan ada kelas khusus bahasa isyarat untuk para volunteer.

Dalam berkomunikasi, hanya bahasa isyarat Indonesia (bisindo) yang digunakan di komunitas. Sebenarnya, terdapat dua standardisasi bahasa isyarat. Selain bisindo, sistem isyarat bahasa Indonesia (SIBI) juga digunakan di Indonesia. Namun, menurut para penyandang tuli di komunitas, SIBI dinilai ribet dan kurang praktis. Sebaliknya, bisindo lebih cepat dipahami karena menjelaskan langsung seperti orang bercakap-cakap.



Sebagian penyandang tuli mengalami pengalaman kurang menyenangkan di masa lalu. Kurangnya kesadaran masyarakat membuat sebagian besar anggota pernah mendapat bullying. ”Bersama komunitas, teman-teman tuli dapat bertukar ilmu. Di sini mereka tentunya akan merasa lebih dihargai. Mereka bisa berinteraksi dan mencurahkan isi hati,” ucap Wakil Ketua Komunitas Hufani Septaviasari Irnanto.

Saat ditemui Radar Malang Rabu (3/10), Fani–sapaannya, berkomunikasi menggunakan 100 persen bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Yanda Maria Elsera Sinaga. ”Untungnya saat ini Kota Malang sudah ramah terhadap orang tuli. Mereka sudah tidak menganggap kami aneh sekali karena banyak ada sosialisasi,” ungkap mahasiswa Administrasi Publik Universitas Brawijaya itu.

Penyandang tuli di Universitas Brawijaya terbilang beruntung, karena ada volunteer dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) yang mendampingi mahasiswa disabilitas setiap kali mengikuti perkuliahan. Sehingga, itu mendukung pemahaman materi di dalam kelas.

”Kami lebih senang dibilang tuli ketimbang tunarungu. Tunarungu berarti ada kerusakan. Sementara tuli artinya hanya tidak dapat mendengar. Kami sudah terbiasa hidup dalam sunyi dan bagi kami ini normal,” lanjutnya.

Komunitas Akar Tuli beberapa kali menyosialisasikan bahasa isyarat saat Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen. Namun, kini konsep sosialisasi diubah menjadi kelas interaktif yang dihelat di Old Bay D’Warung di Jalan Tawangmangu.

Menurut perempuan berusia 24 tahun itu, banyak faktor yang memicu seseorang menjadi tuli. Bisa karena kelahiran, kecelakaan, hingga faktor usia. Hal tersebut dipaparkan Fani dan kawan-kawan pada saat mengisi seminar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Komunitas Akar Tuli banyak diundang di berbagai acara untuk melakukan penyuluhan sekaligus latihan singkat bahasa isyarat. ”Belajar lebih mendalam ke percakapan. Tidak hanya belajar huruf atau abjad,” sahut anggota komunitas lain, Maulana Aditya, yang juga diterjemahkan oleh Yanda.

Yanda sendiri merupakan mahasiswa pertanian yang sudah menjadi volunteer Akar Tuli sejak 2017. Dia salah seorang mahasiswa hearing yang sudah mahir berbahasa isyarat. ”Karena teman-teman biasa menggunakan bahasa isyarat, mereka menjadi ekspresif. Kelebihan ini menjadikan beberapa dari anggota sangat pandai bermain pantomim,” ungkapnya. (esa/c1/riq)