Maos App, Alat Deteksi Dini Penyakit Skizofrenia Buatan Mahasiswa UB yang Mendunia

KOTA MALANG – Pengidap gangguan mental skizofrenia kadang lamban dalam mendeteksi masalahnya. Biaya ke rumah sakit yang tak murah menjadi salah satu kendalanya. Beruntungnya, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) baru-baru ini membuat alat pendeteksi dini skizofrenia.

Alat itu adalah ‘Maos App: A Novel Application Using Mathematic Fractal Analysis for Schizophrenia Early Detection on Fingerprint Pattern’. Sebuah aplikasi terintegrasi dengan alat pendeteksi sidik jari yang mengusung matematika fraktal.

Alat itu dibuat oleh tim gabungan mahasiswa baru angkatan 2019 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) UB. Ialah Rizka Fajriana Putri Ramadhani (Biologi/2019), Nadia Riqqah Nurlayla (Biologi/2019), dan Rahmah Nur Diana (Teknik Informatika/2019).

Dalam kajian aplikasi ini, Rizka bersama rekan-rekannya bekerjasama dengan salah satu Rumah Sakit di Malang untuk mengambil sampel sidik jari 1.000 orang secara acak. Pengambilan sampel ini tujuannya untuk mengidentifikasi adanya keterkaitan antara sidik jari dengan penyakit skizofrenia.

Berdasarkan hasil penelitian sampel tersebut didapatkan hasil bahwa sidik jari antara penderita skizofrenia dan yang bukan terdapat perbedaan yang sangat signifikan, hingga mencapai 95-99 persen.

“Kami menggunakan matematika fraktal dalam mendeteksi sidik jari penderita skizofrenia. Karena fraktal sendiri dapat mendeteksi ketidaksamaan pola sidik jari melalui rumus box-counting,” kata Rizka

Prinsip dari rumus fraktal box-counting adalah menghitung jumlah box yang menutupi objek sidik jari. Kemudian dilakukan serangkaian literasi menggunakan rumus yang sama dengan memberi ukuran box yang berbeda-beda. Sehingga dari serangkaian deteksi sidik jari itu mereka mendapatkan nilai akurasi di atas 80 persen

Proses pendeteksian pun terbilang mudah. Setelah mendeteksi sidik jari, algoritma yang muncul akan diaplikasikan ke dalam bentuk aplikasi mobile yang telah dihubungkan. Sebelumnya, alat deteksi sidik jari itu telah disambungkan dengan gadget.

“Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengetahui apakah pengguna memiliki gejala skizofrenia atau normal. Aplikasi ini juga memiliki fitur untuk memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi mengalami skizofrenia,” ujar mahasiswi baru itu.

Penemuan ini pun membawa mereka pada prestasi tingkat internasional. Kali ini prestasi datang dari ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang diselenggarakan oleh Japan Institute of Invention and Innovation pada 23-27 Oktober.

Adapun empat penghargaan yang berhasil mereka raih meliputi silver medal, special award dari China, special award dari Phillipines dan special award dari Macao.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: istimewa
Penyunting: Fia