Manipulasi Data, Prodi di Kampus Bisa Tutup Otomatis

MALANG KOTA – Perguruan tinggi swasta harus berbenah jika ingin bertahan. Sebab, saat ini aturan Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) sangat ketat dan detail. Ini karena semuanya menggunakan sistem online.

Dengan demikian, perguruan tinggi swasta tidak bisa memanipulasi data administrasi di kampus. Baik data dosen, mahasiswa, dan berbagai data terkait perguruan tinggi. ”Karena semua data akan terekam di Kemenristekdikti,” ujar Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Komisariat IV Jawa Timur Prof Dr Dyah Savitri di kantor Jawa Pos Radar Malang akhir bulan lalu, Senin (31/7).

Menurut Dyah, aturan tersebut dinilai sangat bagus. Sebab, dengan begitu, pengelola kampus akan lebih serius dalam mengelola kampusnya. Bagi yang tidak serius mengelola, maka akan terhapus secara otomatis. Karena itu, bisa saja kampusnya atau program studinya (prodi) ditutup dan dinyatakan ilegal. Misalnya, jika ada perguruan tinggi yang ingin membuka prodi baru, semua persyaratan harus bisa dipenuhi. Mulai jumlah guru besar, dosen, dan lainnya. Dan semua persyaratannya tidak bisa dimanipulasi.

”Misalnya, jumlah dosen tetap di setiap program studi syaratnya kan minimal enam orang. Nah jika ternyata kurang dari enam orang, maka prodi tersebut akan ter-delete. Tidak bisa meminjam dari kampus lain karena akan ketahuan,” terang dia.

Karena sistem administrasinya sudah terkoneksi dengan Kemenristekdikti, maka semua pengelola kampus tidak bisa main-main dalam hal database. Dia meminta 64 perguruan tinggi swasta anggota Aptisi Komisariat IV yang meliputi Kota Malang, Kabukapten Malang, Kota Batu, dan Pasuruan, untuk lebih tertib administrasi. ”Kami selalu mendorong semua anggota Aptisi untuk lebih tertib administrasi. Bahkan, kalau misalnya ada kendala, Aptisi akan membantu,” terang dia.

Dyah menyatakan, Aptisi akan memberikan pendampingan kepada para anggotanya yang memiliki persoalan terkait pengembangan pendidikan di kampusnya. Sebab, Aptisi Komisariat IV tak ingin ada kampus yang menjadi anggotanya mengalami kendala dan akhirnya bisa ditutup.

Menurut Rektor Universitas Gajayana Malang ini, tidak dipungkiri saat ini salah satu persoalan besar yang dihadapi kampus adalah terkait jumlah mahasiswa. Sebab, tidak semua kampus swasta bisa mendapatkan mahasiswa yang sesuai target. Maka dari itu, semua kampus yang tergabung dalam Aptisi harus bekerja sama menjaga kualitas kampus. ”Supaya masyarakat makin percaya,” ujara dia.

Dia yakin, saat ini kualitas kampus swasta secara umum sudah semakin baik. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi. ”Jika ingin tahu segala informasi tentang kampus, masyarakat bisa mengecek langsung melalui situs Kemenristekdikti,” ujar dia.

Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Bayu Eka